Karena Ulah Wisatawan, Situs Warisan Dunia UNESCO ini Terancam Bahaya

Tempat wisata selalu dikunjungi banyak orang dari berbagai kalangan, apalagi jika tempat wisata tersebut sangat populer.

Kadang wisatawan yang berkunjung, memiliki sikap yang tidak sopan dan meresahkan.

Banyak tempat wisata populer dunia rusak karena kelakuan wisatawan yang berkunjung.

Sebut saja Maya Bay di Thailand yang ditutup karena terumbu karang yang rusak akibat dari pariwisata.
Atau turis yang merusak formasi tanah berusia 40 juta tahun di China.

Turis yang seharusnya menjadi pendorong ekonomi wisata, justru merusak tempat wisata yang ada di sana.
Maya Bay
Maya Bay (CNN)

Satu yang saat ini tengah menjadi sorotan adalah kerusakan Situs Warisan Dunia UNESCO di Inggris.

Sekitar lima juta pengunjung mengunjungi taman ini setiap tahunnya.

The Royal Parks, yang mengelola objek wisata itu, mengatakan orang-orang yang memanjat melewati anjungan yang dekat dengan patung Jenderal James Wolfe telah menciptakan kerusakan.

Para pemburu foto ini juga menghancurkan padang rumput yang langka, yang merupakan habitat berharga bagi kupu-kupu seperti meadow brown dan small coppe, serta lebah.

Badan amal Royal Parks kini telah diberi hibah lebih dari 4,5 juta pounsterling oleh National Heritage Lottery Heritage Fund dan Dana Komunitas untuk memulihkan Situs Warisan Dunia itu.
Dana itu juga digunakan untuk menanam kembali pohon di Greenwich Park dengan desain Baroque asli yang dibuat oleh Raja Charles II, menanam semak belukar untuk burung bersarang dan memulihkan area besar taman menjadi tanah padang rumput.

Jane Pelly, kepala lansekap untuk Royal Parks, mengatakan: ‘Greenwich Park mungkin menawarkan pemandangan terbaik di London.

“Tetapi dalam beberapa kasus orang bisa memiliki obsesi untuk mengambil gambar yang sempurna, sehingga mereka tidak melihat di mana mereka berdiri, menginjak-injak padang rumput dan pergi melewati penghalang untuk mendapatkan pemandangan terbaik dari tepi.”

Artikel ini telah tayang di tribunmanado.co.id dengan judul Karena Ulah Wisatawan, Situs Warisan Dunia UNESCO ini Terancam Bahaya, https://manado.tribunnews.com/2020/03/30/karena-ulah-wisatawan-situs-warisan-dunia-unesco-ini-terancam-bahaya.

Editor: Ventrico Nonutu

 

https://manado.tribunnews.com/2020/03/30/karena-ulah-wisatawan-situs-warisan-dunia-unesco-ini-terancam-bahaya

BUMDes Lontar Sewu Sulap Tanah Lapang Jadi Edu Wisata

GRESIK – Geliat ekonomi perdesaan makin terlihat, salah satunya di Desa Hendrosari, Kecamatan Menganti, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Dengan pengelolaan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Lontar Sewu, lapangan yang tidak berfungsi disulap menjadi Edu Wisata, sehingga memiliki nilai ekonomi dan edukasi. BUMDes Lontar Sewu berdiri sejak tahun 2017, dan mulai mengelola Edu Wisata Lontar Sewu pada tahun 2019. Dalam pengelolaannya, BUMDes Lontar Sewu tidak sendirian. Edu Wisata Lontar Sewu di atas lahan seluas 6000 meter persegi tersebut dikelola dengan model kemitraan yang ditawarkan oleh Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT).

Kemendes PDTT melalui Program Pilot Inkubasi Inovasi Desa-Pengembangan Ekonomi Lokal (PIID-PEL) yang dilaksanakan oleh Direktorat Pengembangan Usaha Ekonomi Desa (PUED) merupakan program atau kegiatan fasilitasi yang dilakukan untuk mendorong pengembangan produk unggulan desa melalui kemitraan antara KUEMD termasuk koperasi, lembaga ekonomi desa (BUMDes), dan Pelaku Bisnis Profesional melalui konsep kemitraan yang dikenal dengan konsep kerjasama Pemerintah, Swasta, dan Masyarakat (Public-Private-People-Partnership).

Melalui Program PIID-PEL terbentuklah pelaku kemitraan pengelola Edu Wisata Lontar Sewu. BUMDes Lontar Sewu sebagai pengelola Edu Wisata Lontar Sewu yang terdiri dari unit usaha parkir, tiket masuk, wahana bermain anak, kios103, gazebo, dan café.

KUB Lontar Agung, dan KUB Mahkota Siwalan, sebagai penyedia bahan baku legen dan siwalan. Wahana Kreatif sebagai pelaku bisnis professional (off taker), dan Pusat Inkubasi Bisnis dan Usaha Kecil (PINBUK) FEB Universitas Muhammadiyah Gresik sebagai inkubator yang tugasnya memberikan pelatihan peningkatan kapasitas SDM.

Berawal dari hasil musyawarah desa yang dilakukan pada tahun 2013, dengan melihat potensi Desa Hendrosari yaitu ditumbuhi lebih dari 3.600 pohon lontar dan ada 119 petani pohon lontar yang tergabung dalam Ikatan Petani Pengusaha Legen Hendrosari (IPPLH) akhirnya diputuskan untuk menjadikan Desa Hendrosari menjadi desa wisata.

Desa dengan luas wilayah 192 Ha ini sebagian besar lahannya dipakai untuk lahan pertanian pohon siwalan (lontar), dan dimanfaatkan oleh sebagian besar warga desa sebagai mata pencaharian legen. Dari 3600 pohon lontar, masih terdapat 1.387 pohon yang dapat menghasilkan legen dan buah siwalan. Setiap tahunnya para penderes pohon lontar dapat mengambil 868.700 liter legen dari 792 pohon lontar penghasil legen dan menghasilkan buah siwalan sebanyak 17.850 bungkus (@10 buah) dari 595 pohon penghasil buah siwalan. Hasil dari seluruh legen dan buah siwalan tersebut ditampung oleh Kelompok Usaha Ekonomi Masyarakat Desa (KUEMDes) yang tergabung dalam KUB Lontar Agung dan KUB Mahkota Siwalan.

KUEMDes bekerjasama dengan BUMDes Lontar Sewu mengembangkan olahan-olahan dari bahan dasar legen dan buah siwalan. Hasil produksi olahannya berupa, sari legen, legen buah naga, saus legen, permen legen, brownis siwalan, kopi siwalan, dawet siwalan.

Potensi sumber daya alam yang saat ini sudah dikelola oleh BUMDes berupa olahan dari bahan baku pohon lontar dipadukan dengan pemanfaatan lahan yang ada di Desa Hendrosari dengan membuat konsep Edu Wisata.

Nilai lebih Edu Wisata Lontar Sewu yang ditawarkan di antaranya, akses jalan yang mudah dijangkau, tempat wisata yang alami, terdapat pembelajaran (edukasi) pelestarian pohon lontar mulai dari pembenihan, penanaman, proses produksi alamiah nira dan siwalan, jembatan sarana swa foto, wahana flying fox, arena bermain anak-anak, café lontar sebagai wahan kuliner olahan BUMDes, gazebo, Kios BUMDes.

Perjalanan panjang menuju terwujudnya desa wisata akhirnya dapat terlaksana pada tahun 2018. Pada tahun 2019 Pemerintah Desa Hendrosari menganggarkan dana desa sebesar Rp300.000.000 untuk menunjang peningkatan desa wisata. Pada tahun yang sama, Desa Hendrosari mendapatkan dana sebesar Rp1.311.597.750 melalui PIID-PEL dari Kemendes PDTT.

Dari pengembangan Edu Wisata lontar sewu tersebut mampu menyerap tenaga kerja dan terjadi peningkatan jumlah orang yang bekerja secara langsung, dari delapan orang menjadi 103 orang dengan tingkat pendapatan Rp1,5-2 juta/orang/bulan. Para pekerja pengelola edu wisata diutamakan dari keluarga miskin yang belum memiliki pekerjaan tetap atau berpendapatan rendah.

Meningkatkan pendapatan bagi 119 petani siwalan dari semula Rp100 ribu/hari menjadi sebesar Rp300 ribu/ari dari hasil penjualan legen ke BUMDes.

Jumlah keluarga miskin di Desa Hendrosari, telah berkurang dari 114 Keluarga menjadi 88 Keluarga. Secara bertahap jumlah keluarga miskin akan terus berkurang seiring dengan
perkembangan usaha pariwisata.

Dari segi jumlah pengunjung pun meningkat, yang sebelumnya 100 orang pengunjung, menjadi 3000 orang saat akhir pekan, dan 300-400 orang di hari biasa.

Omzet dari pengelolaan Edu Wisata mencapai Rp32 juta pada akhir pekan, dan Rp10 juta pada hari biasa, yang sebelumnya kurang dari Rp5 juta/hari. Dengan pembagian hasil 25% PADes, 25% pengurus, 50% pengelolaan BUMDes.

Kedepannya diharapkan dengan bantuan program PIID PEL ini, kesejahteraan ekonomi masyarakat bisa meningkat. Pengelolaan edu wisata yang berbasis pada keunikan dan kekhasan lokal seperti di Desa Hendrosari, dengan potensi pohon siwalan ini sangat efektif untuk bisa meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Direktur BUMDes Lontar Sewu, Aristoteles mengatakan, prinsipnya dalam mengembangkan BUMDes tak hanya bagaimana BUMDes dapat meningkatkan omzet dan PADes. Menurutnya prinsip utamanya adalah bagaimana BUMDes dapat memberikan dampak kepada aktivitas ekonomi masyarakat.

“Sejak berdirinya edu wisata ini, masyarakat memiliki ragam usaha tambahan, adanya kios-kios, produk-produk hasil masyarakat juga bisa dipasarkan melalui BUMDes, intinya ada aktivitas ekonomi, selain itu masyarakat juga jadi punya wahana hiburan dan edukasi,” ungkapnya.

Hal tersebut sejalan dengan pesan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (PDTT), Abdul Halim Iskandar yaitu untuk mendirikan BUMDes berdasarkan kebutuhan, permasalahan, dan potensi lokal desa.

“Contohnya di Desa Hendrosari ini, dengan memanfaatkan potensi tumbuhnya ribuan pohon lontar di lapangan yang tadinya tak terpakai, disulap menjadi lapangan yang bernilai fungsi berupa edu wisata,” ujar pejabat yang akrab disapa Gus Menteri ini.

 

https://jatim.sindonews.com/read/28273/1/bumdes-lontar-sewu-sulap-tanah-lapang-jadi-edu-wisata-1585544586

Ke Taman Wisata Gajah Thailand, Cari yang Ramah Satwa

TEMPO.CO, Jakarta – Di Thailand, gajah sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari warga. Bahkan sejak abad pertengahan gajah membantu masyarakat yang hidup di wilayah yang saat ini disebut Thailand. Satwa itu digunakan untuk mengangkut beban, pertanian, hingga perang. Kini untuk melihat gajah, cukup mengunjungi taman wisata gajah.

Gajah disebut sebagai Chang dalam bahasa Thailand. Warga menyukai karena kekuatan, ketangguhan, dan jinak. Namun, pada tahun 1989, karena masalah lingkungan, pemerintah penggunaan gajah. Ribuan gajah beserta mahout (pawang gajah) mereka, kehilangan pekerjaan. Karena setiap gajah makan sekitar 250kg per hari, dengan biaya £ 1.000 sebulan, satu-satunya cara untuk menjaga mereka tetap hidup adalah melalui pariwisata.

Untuk kegiatan wisata, menukil dari The Travel Magazine, Thailand memiliki 3.000 gajah piaraan, dengan lebih dari 200 pusat taman wisata gajah, yang  tersebar di seluruh Thailand. Kini, wisatawan kian sadar mengenai hak-hak satwa, termasuk gajah. Memaksa mereka terus menghibur pengunjung atau mengendarai membuat gajah lelah secara fisik dan mental. Wisatawan pun menuntut standar perawatan tinggi.

Tuntutan pelancong itupun berimbas positif. Sejumlah pusat gajah menyebut diri mereka sebagai tempat perlindungan atau konservasi, tetapi saat ini tidak ada standar yang disepakati, dan terkadang kata itu ditambahkan hanya sebagai taktik pemasaran belaka.

Asosiasi Agen Perjalanan Inggris (ABTA) mengimbau kepada wisatawan dunia, yang melancong ke berbagai negara untuk menghindari semua bentuk kontak dengan satwa, termasuk mengendarai dan memandikan mereka. Dan hanya memberi makan bila terdapat penghalang. Di Thailand tak banyak pusat gajah yang mematuhi imbauan tersebut. Berikut taman wisata atau pusat gajah, yang memperhatikan aspek perlindungan atau konservasi.

Elephants World

Butuh berkendara sekitar tiga jam ke barat dari Bangkok ke Kanchanaburi untuk mengunjungi Elephants World. Pusat gajah itu didirikan pada 2008 oleh dokter hewan Thailand dan istrinya. Mereka mulai dengan tiga ekor gajah dan sekarang memiliki 22 gajah.

Elephants World adalah situs luas yang indah, di tepi Sungai Kwai, dan perawatannya terasa menyenangkan. Memberi makan diperbolehkan di belakang penghalang, dari pedestrian yang dibangun khusus. Namun, wisatawan masih diperbolehkan memandikan gajah pada pagi hari – meskipun jumlah wisatawan sangat dibatasi.

Green Elephant Sanctuary Park

Di selatan Bangkok, di wilayah Phuket yang berpantai indah, rupanya terdapat pusat-pusat gajah yang didirikan. Mereka jadi alternatif bagi wisatawan yang bosan dengan suasana lautan dan sengatan matahari.

Kabarnya di Phuket terdapat gajah yang diikat kakinya di pinggir jalan. Tapi, Green Elephant Sanctuary Park tak melakukannya. Bahkan mereka tak mengizinkan wisatawan mengendarainya. Dan hanya kelompok besar yang boleh berkunjung ke pusat gajah tersebut.

Di Green Elephant Sanctuary Park terdapat 14 gajah, termasuk bayi gajah yang lahir di taman tersebut. Wisatawan diperkenankan memberi susu anak-anak gajah, termasuk memandikan mereka di kolam. Sayangnya, kolam pemandian gajah terlalu kecil, untuk 20 turis yang memandikan gajah.

Phang Nga Elephant Park

Sekitar dua jam di utara Bangkok terdapat Phang Nga Elephant Park atau Taman Gajah Phang Nga. Pusat gajah itu didirikan pada 2015, dan hanya memiliki sembilan gajah. Meskipun gajah di lokasi itu tak sebanyak di tempat lain, namun pemandangan hutan yang subur di sekitar Phang Nga Elephant Park, bis amembuat wisatawa betah.

Gajah-gajah itu memiliki ikatan yang kuat dengan para mahout. Tapi wisatawan bisa memberi makan mereka, dan menuntunnya menyusuri jalur-jalur yang sulit di dalam hutan. Pelesiran memasuki hutan bersama gajah ini, hanya dibatasi 18 orang. Agar perjalanan itu, jadi kesempatan untuk benar-benar dekat dan menghabiskan waktu bersama hewan-hewan besar itu. Wisatawan pun bisa memandikan mereka di kolam – yang tampaknya mengabaikan saran ABTA.

Berajak ke Chang Mai, di utara Bangkok, wilayah itu merupakan konsentrasi gajah lokal Thailand. Sesampai di Chang Mai, lanjutkan dengan berkendara selama sejam untuk mengunjungi Patara Elephant Farm. Peternakan itu fokus ke pengembangbiakan gajah, dan memiliki 44 bayi gajah yang lahir di peternakan itu.

Pat, pemilik peternakan itu, menawarkan program latihan memelihara gajah dalam sehari. Wisatawan diajarkan memandikan mereka sekaligus menungganginya, dan memberi perintah terhadap gajah-gajah itu.

 

https://travel.tempo.co/read/1325490/ke-taman-wisata-gajah-thailand-cari-yang-ramah-satwa/full&view=ok

Penutupan Wisata Candi Diperpanjang Hingga 11 April 2020

Harianjogja.com, SLEMAN – PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan & Ratu Boko (Persero) memperpanjang penutupan akses bagi wisatawan baik di Candi Borobudur, Prambanan, Ratu Boko, Unit Teater, maupun Pentas Ramayana. Penutupan dilakukan mulai dari tanggal 30 Maret sampai 11 April 2020.

Direktur Utama PT TWC Edy Setijono mengatakan penutupan kembali dilakukan dengan terus mengamati perkembangan kasus pandemi Covid-19 yang berada di kawasan DIY dan Jawa Tengah. PT TWC terus berkoordinasi, baik dengan stakeholder dari pemerintah daerah
maupun pemerintah pusat.

“Kami terus lakukan koordinasi serta mengamati perkembangan pandemi Covid-19 ini. Menindaklanjuti kondisi saat ini, maka kami memutuskan untuk melanjutkan penutupan sementara operasional TWC,” ungkap Edy dalam telekonferensi pers di Kantor Pusat TWC di Prambanan, Senin (30/3/2020).

Selain melakukan penutupan operasional, PT TWC juga terus melakukan kegiatan preventif dalam mengurangi upaya penyebaran Covid-19. Hal ini dilakukan baik di lingkungan kerja PT TWC maupun di daerah dengan melibatkan perusahaan BUMN lainnya.

“Merujuk kepada Surat Keputusan Menteri BUMN No.77/MBU/03/2020 tanggal 17 Maret 2020 tentang Satuan Tugas Bencana Nasional BUMN, PT TWC ditunjuk sebagai Koordinator Satgas Bencana Nasional BUMN Wilayah DIY,” katanya.

Untuk kepentingan tersebut, lanjut Edy, ia telah melakukan koordinasi bersama BUMN-BUMN lainnya untuk menyikapi serta membantu menanggulangi pandemi ini. Selain itu, PT TWC juga melakukan tindakan preventif di lingkungan kerjanya, dengan melakukan penyemprotan disinfektan yang dilakukan tiga kali sehari. “Upaya ini turut dibarengi dengan melakukan perbaikan sarana dan prasarana di lingkungan Taman Wisata Candi,” katanya.

 

 

https://jogjapolitan.harianjogja.com/read/2020/03/30/512/1035525/penutupan-wisata-candi-diperpanjang-hingga-11-april-2020

Selain Pantai, Wisata di Bali Asyiknya Singgah di Air Terjun Berlapis Tukad Unda

JAKARTA, iNews.id – Bali memiliki banyak objek wisata menarik untuk dijelajahi. Tidak hanya pantai dan pegunungannya yang eksotis. Jika Anda singgah ke Bali, jangan lewatkan objek wisata yang satu ini.

Ya, wisatawan bisa singgah ke air terjun Tukad Unda. Air terjun yang terlihat datar dan seolah seperti tirai panjang ini ditata rapi oleh alam.

Tempat ini menjadi spot favorit untuk berfoto. Padahal, ini adalah bendungan yang debit airnya cukup banyak dan sering dipakai untuk mengaliri lahan pertanian warga.

Tukad Unda Bali dibangun di salah satu sungai terbesar di Pulau Dewata Bali. Dalam bahasa lokal, tukad berarti sungai dan unda berarti lapisan, sehingga dapat diartikan Tukad Unda adalah sungai yang airnya berlapis-lapis.

“Bendungan Tukad Kali Unda, terletak di Kab. Klungkung Bali. Bendungan tersebut merupakan warisan dari jaman penjajahan Belanda. Photo by @riskidarmawan,” tulis Instagram @sscibali, dikutip Senin (30/3/2020).

Di bagian Utara air terjun ini, wisatawan bisa melihat pemandangan indah Gunung Agung yang menjulang tinggi.

Banyak pohon-pohon rindang di sekitar Air Terjun Tukad Unda yang membuat suasananya sangat asri. Bahkan, tempat wisata ini juga sering dijadikan lokasi foto prewedding.

Jika musim hujan tiba, debit airnya bertambah dan airnya berwarna kecoklatan. Sedikit tips, jangan berfoto prewedding ketika musim hujan. Airnya deras, dan sangat berbahaya.

Tukad Unda terletak di Desa Lebah Banjar, Kecamatan Klungkung, Kabupaten Klungkung, Bali. Jaraknya cukup dekat dari Kota Denpasar, hanya sekitar 62 km dengan waktu tempuh 1,5 jam. Atau berjarak 44 km dari Bandara Ngurah Rai, dengan waktu tempuh sekitar 55 menit dengan kendaraan bermotor.

Tukad Unda di Klungkung ini sangat mudah di akses karena dekat dengan jalan raya, bahkan dapat dilihat dari atas jembatan penghubung antar kota Klungkung dengan Kecamatan Dawan.

Tidak perlu mengeluarkan biaya untuk mengunjugi Tukad Unda di Klungkung ini. Anda yang hanya ingin berfoto-foto pun bisa dengan mudah dan gratis untuk mengambil pemandangan alam yang disuguhkan. Bagaimana, tertarik menjelajahi air terjun berlapis di Bali?

Editor : Vien Dimyati

https://www.inews.id/travel/destinasi/selain-pantai-wisata-di-bali-asyiknya-singgah-di-air-terjun-berlapis-tukad-unda