TEKNIK PENGUKURAN  KONSUMSI TERNAK GEMBALA

TEKNIK PENGUKURAN  KONSUMSI TERNAK GEMBALA

oleh

AFRO MAKING, S.Pt.,M.Si

 

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Konsumsi pakan adalah faktor esensial yang merupakan dasar untuk mencukupi hidup pokok dan menentukan tingkat produksi. Tingkat konsumsi ternak dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang terdiri dari hewan, pakan yang diberikan, dan lingkungan tempat hewan te rsebut dipelihara (Parakkasi, 1999). Konsumsi merupakan faktor yang penting dalam menentukan produktivitas ruminansia dan ukuran tubuh ternak sangat mempengaruhi konsumsi pakan.

Konsumsi dinyatakan mencukupi jika jumlah pakan yang dimakan ternak dapat menyediakan nutrien yang dikandungnya untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok maupun keperluan produksi ternak (Tillman et al., 1998).Konsumsi pakan dipengaruhi oleh palatibilitas, level energi, protein dan konsentrasi asam amino, komposisi hija uan, temperatur lingkungan, pertumbuhan, laktasi, dan ukuran metabolik tubuh. Secara umum konsumsi dapat meningkat dengan semakin meningkatnya berat badan, karena pada umumnya kapasitas saluran pencernaan meningkat dengan semakin meningkatnya berat badan sehingga mampu menampung pakan dalam jumlah lebih banyak.

Pengukuran konsumsi pakan, walaupun kelihatan sangat sepele dan nampaknya sangat sederhana, ternyata mempunyai dampak yang begitu besar terhadap penilaian kita pada bagaimana pakan yang diberikan dapat digunakan oleh ternak atau dengan kata lain bagaimana respons ternak terhadap makanan yang diberikan (Jarrige, 1989). Pengukuran konsumsi yang akurat akan memberikan dasar yang kuat dalam pemberian sejumlah pakan atau ransum untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan respons tertentu yang diharapkan. Namun pada ternak digembalakan merupakan suatu persoalan yang mudah dilakukan, tetapi keakuraan dan ketepatan sangat terbatas.

Dengan peranan yang begitu besar maka tidaklah berlebihan jika pengukuran konsumsi harus diperhatikan dengan seksama, sehingga dapat menghasilkan data yang akurat.Dengan demikian dalam makalah ini di akan dibahas mengenai teknik-teknik pengukuran konsumsi ternak gembala, kelebihan dan kekurangan serta contoh pada teknik pengukuran.

  1. Tujuan

Untuk mengetahui teknik pengukuran konsumsi ternak gembala, kelebihan dan kekurangan serta contoh pada teknik pengukuran.

PEMBAHASAN

Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat.

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGUKURAN KONSUMSI PAKAN

Pengukuran konsumsi pakan ternak ruminansia yang di gembalakan dan dikandangkan haruslah memperhatiakn beberapa hal termasuk level pakan yang disajikan kepada ternak, berbagai karakteristik hijauan, adanya aktivitas seleksi oleh ternak, dan lain-lain. Dengan memperhatikan aspek- aspek tersebut maka data yang diperoleh akan dapat diharapkan untuk lebih akurat dan dapat diaplikasikan sesuai dengan tujuan pengukuran konsumsi tersebut.

Level pakan Yang Diberikan

Pengukuran tingkat konsumsi pakan oleh seekor ternak dapat menggunakan beberapa level tergantung tujuan pengukuran konsumsi pakan tersebut. Melakukan pengukuran konsumsi pakan pada ternak yang diberikan sejumlah pakan yang berbeda yakni 95, 115 dan 135% secara ad libitum pada umumnya akan dapat mengevaluasi karakteristik fisik dan kimia pakan yang diberikan serta respons tingkah laku fisiologis ternak terhadap hijauan yang diberikan. Pendekatan demikian akan memberikan berbagai informasi yang sangat berharga seperti :Tingkat konsumsi bahan kering ketika ternak diberikan pakan yang memaksimumkan konsumsi dan meminimumkan sisa pakan (95% ad libitum). Hal ini akan menghasilkan data tingkat konsumsi pakan yang diberikan versus potensi pakan yang dapat dikonsumsi.Tingkat konsumsi bahan kering harian ketika konsumsi secara selektif dimaksimumkan (135% ad libitum) akan memberikan potensi konsumsi pakan yang diseleksi dari hijauan yang disediakan.

Pengukuran potensi selektivitas dengan mempehitungkan kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi (tingkat konsumsi vs level yang diberikan).

Perbandingan yang valid dalam hal tingkat konsumsi hijauan tertentu antar laboratorium.Respons ternak terhadap kecernaan dan performans yang memungkinkan estimasi nilai ekonomi pada level pemberian pakan yang mana yang dapat digunakan dilapangan yang nantinya memeberikan keuntungan ekonomis tertinggi.Mengukur tingkat konsumsi pakan dengan level pemberian pakan yang berbeda akan memberikan informasi yang secara langsung dapat diaplikasikan pada berbagai sistem produksi yang berbeda. Nilai manfaat tertinggi dari cara demikian diperoleh ketika kuantitas pakan sangat rendah atau pada situasi ketika ternak dapat menyeleksi pakan dengan kualitas yang lebih tinggi, contohnya seleksi terhadap daun. Pengukuran demikian mungkin kurang manfaatnya jika hijauan yang disajikan berkualitas tinggi dan homogen.

Walaupun disarankan untuk menggunakan level pakan yang berbeda jika kita ingin mengestimasi tingkat konsumsi hijauan tertentu, ini tidak berarti pengukuran tingkat konsumsi dengan satu level pakan tidak benar atau tidak berguna. Hanya saja kesimpulan yang diperoleh terbatas pada level yang diberikan. Hal ini perlu ditekankan disini karena juga belum sepenuhnya dimengerti pada ternak yang merumput.

Selektivitas

Ketika diberikan kesempatan untuk memilih ternak akan cenderung memilih makanannya sesuai dengan kebutuhan nutrisinya dengan seminimal mungkin energi yang harus dikeluarkannya. Ternak akan memilih dedaunan yang masih hijau dan akan menghindarkan untuk mengkonsumsi hijauan yang berkualitas rendah terutama bagian batangnya. Demikian juga ternak akan menyeleksi spesies maupun bagian tanaman yang mempunyai kualitas yang tinggi (lebih tinggi dari yang lainnya) seperti yang mempunyai protein dan tingkat kecernaan yang tinggi. Jika kita mengabaikan fenomena ini maka kita sering membuat kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Kesalahan terbesar terjadi pada  tingkat pemberian pakan yang tinggi (135% ad libitum) dimana seleksi oleh ternak paling mungkin dilakukan. Kesalahan juga lebih mungkin terjadi pada ternak kambing dibandingkan dengan pada ternak sapi atau domba mengingat kambing lebih selektif daripada sapi atau domba (Van Soest, 1994).

Untuk menghindarkan selektivitas oleh ternak memang nampak ada baiknya untuk mengukur konsumsi masing-masing bagian tanaman baik yang disenangi (mempunyai selektivitas tinggi) maupun bagian tanaman yang kurang atau tidak disenangi (selektivitas rendah).

Untuk menurunkan tingkat seleksi dapat juga dilakukan dengan mencincang pakan yang menjadi bagian yang lebih kecil. Namun demikian perlakuan demikian mungkin akan menghasilkan data yang tidak sesuai dengan kondisi dilapangan dimana hasil penelitian tersebut akan diterapkan.

Sumber Hijauan

Pada kebanyakan penelitian konsumsi pakan, satu sumber hijauan biasanya merupakan salah satu perlakuan atau menjadi ransum basal untuk beberapa perlakuan dengan individu ternak sebagai ulangan.Idealnya, hijauan yang digunakan harus juga merupakan ulangan baik asalnya maupun waktunya atau kedua-duanya. Hal ini memang akan memerlukan penelitian yang jauh lebih besar atau mengulang penelitian pada tahun yang berbeda. Namun hasil penelitian demikian biasanya akan menghasilkan kesimpulan yang jauh lebih luas daripada hanya menggunakan satu sumber hijauan.

Pengaruh Perubahan Umur Hijauan

Proses pendewasaan tanaman adalah faktor paling utama yang menyebabkan perubahan nilai nutrisinya dan dengan demikian akan berdampak pada tingkat konsumsi tanaman tersebut. Selama proses pendewasaan tersebut, perubahan yang terjadi maliputi perubahan fisiologis dan morfologis tanaman. Perubahan fisiologis terjadi dengan diawali dengan perkembangan awal sel ketika jaringan masih belum berdeferensiasi sebelum terjadinya perubahan dinding sel sekunder.Sementara itu perubahan morfologi meliputi perubahan proporsi daun, cabang dan batang.

Idealnya, nilai nutrisi hijauan haruslah diketahui sepanjang tahun yaitu sepanjang proses pendewasaan tersebut. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui pada periode-periode mana perubahan dalam hasil, tingkat konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering serta tingkat konsumsi bahan kering tercerna.

Estimasi terhadap respons ternak pada berbagai fase pertumbuhan tanaman hanya bias kita peroleh jika kita mengorbankan lama hari per ternak darimana koefesien tersebut kita peroleh. Penelitian tingkat konsumsi pakan idealnya memerlukan waktu selam 21 hari yang terdiri dari 7 hari untuk penyesuaian dan 14 hari untuk pengukuran. Dengan demikian, hijauan yang akan digunakan dalam penelitian ini perlu disimpan dalam bentuk kering atau dalam bentuk beku. Keuntungan praktis pengetahuan tentang bagaimana tingkat konsumsi berubah dengan berubahnya tingkat kedewasaan tanaman adalah pertimbangan eknomi untuk memperoleh hasil panen hijauan yang tertinggi (kg/ha) dengan nilai nutrisi yang tetap memungkinkan respons ternak yang memadai. Dengan demikian peternak akan dapat menentukan saat terbaik untuk memanen hijauannya dengan keuntungan ekonomis yang maksimum.

TEKNIK PENGUKURAN KONSUMSI PAKAN DI PADANG PENGGEMBALAAN

  1. PENGUKURAN SECARA LANGSUNG

1.1  Menimbang berat badan ternak sebelum dan sesudah merumput.

Teknik pengukuran konsumsi pakan dengan cara menimbang ternak sesudah dan sebelum digembalakan. Dalam metode ini, perbedaan antara berat ternak awal dan berat ternak setelah digembalakan menjadi data jumlah konsumsi pakan pada kurun waktu yang diberikan.

Sebagai contoh :

–          Ternak yang akan digembalakan dengan berat badan      = 250 kg.

–          Setelah pengembalaan mencapai berat badan                   = 280 kg.

–          Dengan demikian kemampuan konsumsi ternak adalah   = 30 kg.

Kelebihan:

Metode ini dapat dengan mudah dilakukan tanpa prosedur yang rumit.Sementara ternak lebih selektif dalam mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhan selama digembalakan.

Kelemahan ;

–          Metode ini dapat dilakukan dalam periode waktu penggembalaan yang pendek yakni (1-3 hari) (Mulik, 2011)

–          Keakuratan data dalam konsumsi pakan sangat kecil, dimana urin dan feses yang dikeluarkan selama penggembalaan tidak terukur.

1.2  Selisih biomasa hijauan sebelum dan sesudah digembalakan.

Dari metode ini, jumlah biomas hijauan pada padang penggembalaan dihitung dalam sampel sebelum dan sesudah ternak digembalakan. Selisih biomasa hijauan dipadang penggembalaan adalah jumlah hijauan yang dikonsumsi oleh ternak. Perhitungan konsumsi diperoleh dari perbandingan antara jumlah biomasa hijauan yang hilang dengan jumlah hari dan ternak yang digembalakan (Mulik,2011)

Sebagai contoh :

–          Jumlah biomasa yang ada di padang pengembalaan         = 2000 kg BK.

–          Sisa biomasa yang ada pada padang penggembalaan = 1500 kg BK

–          Jumlah ternak dengan status fisiologis yang sama            = 2 ekor

–          Jumlah hari yang di gembalakan                           = 5 hari

Dengan demikian estimasi konsumsi pakan per ekor ternak adalah 50 kg/ekor/hari.

Kelebihan

–          Sangat mudah dilakukan dimana dengan mengambil sampel pada beberapa titik dari daerah padang penggmbalaan. Sementara ternak lebih selektif dalam mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhan selama digembalakan.

Kelemahan

–          Waktu penggembalaan dibatasi dimana tidak lebih dari 1 minggu.

–          Kesalahan dalam pengambilan sampling berpengaruh terhadap jumlah perkiraan konsumsi, dimana ketebalan biomasa padang penggembalaan dari setiap titik berbeda-beda.

–          Kecepatan pertumbuhan kembali pada hijauan makanan ternak dapat menyebabkan kesalahan dalam perhitungan konsumsi pakan.

–          Kerusaha tanaman akibat injakan, perenggutan yang berakibat pada kerusakan hijauan dapat berpengaruh pada kesalahan dalam perhitungan konsumsi pakan.

 

  1. PENGUKURAN KONSUMSI TIDAK LANGSUNG

2.1  Perkiraan produksi feses

Perkiraan produksi feses diukur menggunakan dua cara yaitu :

2.2  Koleksi total.

            Mulik, (2011), berpendapat bahwa produksi feses pada ternak yang digembalakan diukur menggunakan harness dan kantong penampung yang diikatkan pada bagian belakang bahwa ternak untuk menampung semau feses yang dikeluarkan oleh ternak dalam periode waktu tertentu.

Kelebihan

–          Lebih sederhana dan tidak membutuhkan biaya analisis dalam jumlah besar.

–          Penerapan pada ruminansia kecil sebagai model dalam estimasi ternak ruminansia besar.

Kekurangan

–          Membutuhkan  tenaga yang siap mengosongkan isi kantong penampung feses.

–          Metode yang efisien ini hanya mampuh diterapkan pada gembala ruminansia kecil, dimana menghindari resiko kecelakan dalam pemasangan dan pengosongan kantong penampung feses.

2.3  Menggunakan marker

            Pada metode ini hanya diambil sampel total produksi feses dan dihitung dengan menggunakan rasio marker yang diberikan dengan konsentrasinya dalam sampel feses.

Kelebihan

–          Metode ini diperlukan sampel feses sehingga tidak diperlukan koleksi seluruh feses.

Kekurangan

–          Membutuhkan ketelitian dan biaya analisis dalam jumlah yang besar.

2.4  Estimasi daya cerna

            Kecernaan zat makanan didefinisikan sebagai jumlah zat makanan yang tidak diekskresikan dalam feses atau dengan asumsi bahwa zat makanan tersebut dicerna oleh hewan apabila dinyatakan dalam persentase maka disebut koefisisen cerna (Tillman, 1989). Keberadaan pakan dalam alat pencernaan ruminansia akan mengalami perubahan kimia, biologi, dan fisik. Setiap jenis ternak memiliki kemampuan yang berbeda dalam mendegradasi pakan, sehingga mengakibatkan perbedaan kecernaan dalam rumen.

            Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengukur kecernaan suatu bahan pakan seperti in vivo, in sacco  dan in  vitro.  Teknik evaluasi pakan secara in vivo  mempunyai tingkat akurasi yang  lebih tinggi dibanding teknik lain karena bersifat aplikatif pada ternak secara  langsung.

            Pengukuran kecernaan secara in vivo  dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara tak langsung dengan menggunakan  marker  dan secara langsung.

2.5  Pengukuran secara langsung merupakan pengukuran konvensional dengan menggunakan kandang metabolis ataupun kandang individu.

            Dalam metoda ini semua pakan, sisa pakan dan feses ditimbang dan dicatat, kemudian diambil sampel untuk dianalisis. Dengan mengetahui jumlah pakan yang diberikan, sisa pakan, dan feses  maupun urine yang dikeluarkan setiap ekor ternak serta  mengetahui kandungan zat makanan bahan pakan, sisa pakan, feses atau urine, maka akan didapat nilai kecernaan dari masing-masing komponen. Pengukuran secara tidak langsung merupakan metode yang pada penerapannya feses yang dikeluarkan ternak tidak perlu dikumpulkan dan ditimbang semua tetapi cukup diambil sampelnya.

Kelebihan

            Teknik ini biasanya dilakukan pada ternak yang digembalakan, pengukuran konsumsinya dihitung dengan menduga feses yang dikeluarkan untuk setiap ternak dengan menggunakan perunut misalnya  chrome oxide, ferric oxide, pigment, silika, lignin  dan cromogen. Selisih antara konsumsi zat  makanan bahan pakan dengan ekskresi zat makanan feses menunjukkan jumlah zat makanan bahan pakan yang dapat dicerna Kecernaan ransum mempengaruhi konsumsi ransum, kecernaan ransum yang rendah dapat meningkatkan konsumsi ransum karena laju digesta dalam pencernaan semakin cepat dan ransum akan cepat keluar dari saluran pencernaan

Kekurangan

–          Diperlukan ketelitian dalam pengambilan sampel hijauan yang tepat sesuai yang dikonsumsi ternak.

–          Kemapuan daya cerna in vitro umumnya lebih rendah daripada kemapuan kecernaan sebenarnya oleh ternak itu sendiri.

2.6  Menggunakan marker internal

            Marker internal merupakan senyawa kimia dalam pakan yang tidak dapat dicerna dalam saluran pencernaan seperti lignin, silica, kromogen dan NDF tidak tercerna( Mulik, 2011).

            Pada umumnya metode ini membutuhkanbiaya analisis dalam jumlah yang tinggi, sementara terkadang dalam recovery marker kurang baik yang mempengaruhi nilai estimasi. Daya cerna dapat dihitung :

Keterangan :

Md = konsentrasi marker dalamhijauan

Mf = konsentrasi narker dalam feses.

            Setelah memperoleh produksi feses dan daya cerna, denan demikian konsumsi bahan kering dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :

Sebagai contoh

Jumlah marker yang di di infuse pada seekor tenak 10 µg.

Konsentrasi marker dalam sampel feses adalah 0.006 µg/g feses

Perhitungan

Dari hasil estimasi perhitungan diperoleh konsumsi pakan dalam Bahan kering adalah 1666.27 gBK/hari.

PENUTUP

Pengukuran konsumsi pakan nampaknya mudah namun sebenanya besarnya bervariasi yang ditemukan mambuat akurasi data yang diperoleh tidak begitu tinggi. Pengukuran konsumsi pakan haruslah dilakukan dengan tujuan tertentu dan dengan memperhatikan hijauan (umur, spesies, dll.), lama pengukuran, jenis dan jumlah ternak yang digunakan, kandang dan level pemberian pakan yang disesuaikan dengan tujuan pengukuran.

Pengukuran konsumsi pakan sedikitnya lebih mudah dilakukan pada ternak yang ada dalam kandang sementara di gembalakan sangat berpengaruh terhadap keakuratan data dan informasi yang diperoleh. Pengukuran konsumsi pakan ternak gemabala hingga saat ini masih sulit untuk dilakukan terutama berbagai metode yang dikembangkan mempunyai keterbatasan tertentu. Metode langsung dan tidak langsung pada banyak situasi dapat lebih mudah dilakukan akan tetapi pada umumnya memerlukan analisis kimia yang cukup banyak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Jarrige, R. 1989. Ruminant Nutrition: Recommended Allowances and Feed Tables. INRA. INRA, John Libbley, Paris.

Mulik, 2011.System produksi sapi gembala berkelanjurtan integrasi iklim, tanah, tanaman dan ternak.Cetakan 1, Undana Press. Kupang

Parakkasi, A., 1995. Ilmu Makanan dan Ternak Ruminansia. UI Press, Jakarta.

Tillman, D., H. Hartadi, S. Prawirokusumo, S. Reksohadiprodjo dan S.Lebdosukojo.1991.Ilmu   Makanan Ternak Dasar.Gadjah  mada University Press, Yokyakarta.

Van Soest, P. J. 1996. Forage Intake in Relation to Chemical Composition and Digestability: Some New Concepts. Proc. 23rd Southern Pasture Forage Crop Improvement Conf., P. 24. Blackburg, VA.

 

POTENSI BREEDING dan SELEKSI  SAPI LOKAL TERNAK GEMBALA DI PADANG PENGGEMBALAAN NTT

MAKALAH 

PRODUKSI TERNAK GEMBALA

(Mardianus E. Ili, S.Pt.M.Si)

 PENDAHULUAN

Latar belakang

Ukuran tubuh sapi Bali tergolong kecil yaitu sekitar 2/3 ukuran sapi Brahman dan mempunyai kombinasi ciri fisik dan tingkah laku bangsa sapi lain. Mereka mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan bangsa sapi lain (n=60), meskipun F1 jantan hasil persilangan dengan sapi-sapi bangsa Bos indicus dilaporakan mandul (Kirby, 1979). Dari dinamika populasi sapi Bali di kawasan Timur Indonesia mengindikasikan bahwa kebanyakan anak betina yang dliahirkan dan disapih diperlukan untuk menggantikan induknya, tetapi 40% dari betina dijual setiap tahunnya. Tingkat penjualan tersebut tidak sustainabel dan dapat menyebabkan penurunan populasi ternak. Dengan demikiian diperlukan manajemen strategis yang mampu meningkatkan proporsi induk beranak dari 65% menjadi 80% dan menurunkan angka kematian pedet dari 15% menjadi 10%. Hal ini akan menyebabkan, Net turnoff meningkat 1/3nya, dengan turnoff tahunan sekitar 50% betina dimungkinkan, Peternak akan menjual setiap tahunnya sekitar 25% dari betina sapihan.

Industri peternakan sapi di dunia mempunyai sejarah panjang dalam upaya meningkatkan efesiensi produksi dengan mengubah genetiknya, tetapi keberhasilannya sangat rendah. McCool (1992) menyatakan bahwa mengganti sapi lokal dengan bangsa eksotis akan menyebabkan beberapa permasalahan  (a) Distokia karena heterosis akan meningkatkan berat lahir pedet (b) Toleransi yang lebih rendah terhadap penyakit, paraasit, kualitas nutrisi yang jelek dan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat dan (c) Meningkatkan upaya (kerja) untuk memberikan makanan utnuk setiap ternak karena meningkatnya pertumbuhan dan ukuran dewasa yang lebih besar.

Genotipe yang biasa digunakan dalam crossbreeding atau menggantikan sapi Bali pada umumnya sekitar 50% lebih besar dibandingkan dengan sapi Bali. Jika penyediaan pakan tidak ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat, maka sebagian besar pakan tersebut akan digunakan untuk maintenance dan sangat sedikit digunakan untuk produksi dengan hasil akhir produktivitas yang rendah.

Sapi Bali nampaknya cocok untuk kebutuhan peternak di NTT. Terdapat kesempatan yang besar dalam meningkatkan mutu genetik melalui seleksi. Akan tetapi untuk memperoleh perbaikan genetik kita harus mengidentifikasi dan menggunakan ternak terseleksi dan mempunyai kemampuan untuk menyebarluaskan dan menggunakan ternak terseleksi tersebut oleh peternak kecil. Dari uraian diatas maka dalam makalah ini penulis membahas potensi breeding  sapi lokal ternak gembala di padang penggembalaan nusa tenggara timur

TUJUAN

Adapun tujuan yang ingin diketahui dalam penulisan makalah ini adalah untuk menggambarkan potensi breeding sapi local ternak gembala dipadang penggembalaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui tahapan seleksi.

 

PEMBAHASAN

 

2.1  Potensi ternak sapi local (sapi bali) di NTT

Produktivitas adalah hasil yang diperoleh dari seekor ternak pada ukuran waktu tertentu (Pane, 1990) menyatakan bahwa produktivitas sapi potong biasanya dinyatakan sebagai fungsi dari tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Wodzicka-Tomaszewska et al. (1988) menyatakan bahwa aspek produksi seekor ternak tidak dapat dipisahkan dari reproduksi ternak yang bersangkutan, dapat dikatakan bahwa tanpa berlangsungnya reproduksi tidak akan terjadi produksi. Dijelaskan pula bahwa tingkat dan efesiensi produksi ternak dibatasi oleh tingkat dan efesiensi reproduksinya. Pane,. (1991) menyatakan bahwa produktivitas nyata ternak merupakan hasil pengaruh genetik dan lingkungan terhadap komponen-komponen produktivitas. Selanjutnya Kasip, (1990) menyatakan bahwa performan seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh komulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak bersangkutan sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak sedang faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin panampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik.

Pane,. (1991) menyatakan bahwa produktivitas ternak potong di Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan produktivitas dari ternak sapi di negara-negara yang telah maju dalam bidang peternakannya, namun demikian Keman (1986) menyatakan bahwa produktivitas sapi daging dapat ditingkatkan baik melalui modofikasi lingkungan atau mengubah mutu genetiknya dan dalam praktek adalah kombinasi antara kedua alternatif diatas. Jelantik (2002) menyatakan bahwa yang termasuk dalam komponen produktivitas sapi potong adalah jumlah kebuntingan, kelahiran, kematian, panen pedet (calf crop), perbandingan anak jantan dan betina, jarak beranak, bobot sapih, bobot setahun (yearling), bobot potong dan pertambahan bobot badan. Tabel 2 menunjukkan rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi potong di Indonesia.

Tabel 2. Rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi bali di Indonesia

Bangsa Kelahiran Kematian Calf crop
Brahman

Brahman cross

Ongole

Lokal cross

Bali

50,71

47,76

51,04

62,47

52,15

10,35

5,58

4,13

1,62

2,64

48,80

45,87

48,53

62,02

51,40

Sumber :

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa sapi Bali memperlihatkan persentase kelahiran 52,15% lebih tinggi di banding dengan sapi Brahman 50,71%, Brahman cross 47,76% dan sapi Ongole 51,04% kecuali Lokal cross (Lx) 62,47%, demikian pula calf crop sapi Bali 51,40% lebih tinggi dibanding sapi Brahman 48,80%, Brahman cross 45,87% dan sapi Ongole 48,53% kecuali Lokal cross sebesar 62,02 % serta persentase kematian yang rendah. Hal tersebut dapat memberi gambaran bahwa produktivitas sapi Bali sebagai sapi asli Indonesia masih tinggi, namun jika dibandingkan dengan sapi asal Australia masih tergolong rendah yakni calf crop-nya dapat mencapai 85 % (Trikesowo et al., 1993).

Vercoe dan Frisch (1980) menyatakan bahwa sifat produksi dan reproduksi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bangsa sapi, keadaan tanah, kondisi padang rumput, penyakit dan manajemen. Oleh karena itu perbaikan mutu sapi potong haruslah ditekankan pada peningkatan sifat produksi dan reproduksi yang ditunjang oleh pengelolaan yang baik dari segi zooteknis dan bioekonomis. Adapun penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi Bali

Keterangan Bali P3Bali
Berat Lahir (Kg)

Berat Sapih (Kg)

Berat 1 th, Jantan (kg)

Betina (Kg)

Berat 2 th, Jantan (Kg)

Betina (Kg)

Berat Dewasa, Jantan (kg)

Betina (Kg)

Ukuran Tubuh Dewasa :

Jantan :

Lingkar Dada (cm)

Tinggu gumba (cm)

Panjang badan (cm)

Betina :

Lingkar Dada (cm)

Tinggu gumba (cm)

Panjang badan (cm)

Persentase beranak/th (%)

16

86

135

125

235

200

395

264

 

 

185,5

125,4

142,3

 

160,8

113,6

118,5

69

18

94

145

135

260

225

494

300

 

 

198,8

130,1

146,2

 

174,2

114,4

120,0

86

Sumern : Anonymous (2013)

2.2  Penerapan Seleksi

Dalam program pembibitan tidak telepas  dari proses seleksi. Berkaitan dengan potensi daerah dengan produk andalan sapi bali yang memiliki berbagai keunggulan seperti .

  1. Keunggulan utama sapi Bali adalah terletak pada kesuburannya yang sangat tinggi. Sapi ini mempunyai potensi angka kelahiran mencapai 85% (Banks, 1986) dibandingkan dengan sapi Ongole yang hanya 30% (Bamualim dan Wirdahayati, 1990). Hal ini didukung oleh:
  • Interval berahi yang panjang (18-24 jam) dan intensitas yang cukup tinggi (Jelantik, 1990).
  • Pejantan sapi Bali yang agresif dan dengan produksi serta kualitas sperma cukup tinggi (Burhanuddin dkk., 1992).
  • Produksi susu yang sangat rendah antara 0,79 kg (Wirdahayati dan Bamualim, 1990) sampai 1,4 kg (Jelantik dkk., 1998; Jelantik, 2001a) terutama pada kondisi stress nutrisi. Cenderung mengorbankan anaknya demi mempertahankan liabilitas reproduksinya.
  1. Persentase karkas yang tinggi (Malelak et al.,1998) dengan kualitas daging standard muscular grade (SMG) no. 3 sehingga dagingnya menjadi lebih mahal (Natasasmita, 2001).
  2. Tahan terhadap panas (Hattu, 1993)
  3. Tahan terhadap caplak dan parasit eksternal lainnya
  4. Laju pertumbuhan yang rendah karena:
  • Lambat dewasa (Fattah, 1998; Jelantik, 2001c)
  • Ukuran dewasa tubuh yang rendah
  • Laju metabolisme yang lambat sehingga tingkat konsumsinya rendah dan laju pertumbuhan rendah.
  1. Adaftif (mampu bertahan hidup) terhadap pakan berkualitas rendah karena:
  • Kandungan urea darah yang tinggi
  • Laju urea recycling yang tinggi (Jelantik, 2001b)

Sehingga dalam penerapan breeding keunggulan utama dari hasil seleksi  yang menjadi tujuan adalah menghasilkan sapi bakalan berkualitas dari lahan ‘tradisional’. Keunggulan dari produk (sapi bakalan) yang akan dihasilkan mempunyai karakteristik unggul karena:

  1. Mempunyai berat lahir yang tinggi, mencapai rata-rata 16 kg (Toelihere dkk., 1991); berat lahir yang tinggi mempunyai korelasi dengan tingginya laju pertumbuhan, daya tahan hidup (survival rate), berat sapihan yang tinggi dan berat sapi bakalan yang tinggi.
  2. Sapi bakalan yang dihasilkan sebagian merupakan bakalan Bali hasil perkawinan dengan pejantan Bali terpilih.
  3. Sapi bakalan yang dihasilkan tidak pernah mengalami stress pakan selama musim kemarau dan dengan demikian selama hidupnya sehingga akan mempunyai tampilan prima pada saat penggemukan nanti yaitu tetap mempunyai laju pertumbuhan tinggi dan respons terhadap penggemukan (pemberian pakan berkualitas) yang tinggi.
  4. Sapi bakalan yang dihasilkan dan telah digemukkan akan mempunyai kualitas daging yang tinggi dengan persentase daging (protein) yang tinggi karena ternak mencapai bobot potong pada umur yang jauh lebih muda dari sapi Bali saat ini.
  5. Sapi bakalan yang diproduksi memiliki berat badan yang tinggi (di atas 150 kg pada umur 1 tahun) sehingga dapat segera digemukkan dan dalam waktu yang singkat sudah dapat dijual/ di antar pulaukan.

Ternak dipelihara dalam sistem pemeliharaan ekstensif yang berarti sistem yang tidak berbeda dan sudah dikenal oleh masyarakat. Namun teknik modern akan diterapkan dengan mempertimbangkan:

  1. Memaksimalkan pemanfaatan lahan yang pada umumnya milik kolektif (suku) sehingga pengelolaannya juga harus menggunakan pendekatan kelompok. Pengelolaan pribadi tidak dimungkinkan.
  2. Menjamin efesiensi yang tinggi. Pada umumnya dipercaya produksi sapi bakalan akan jauh lebih efesien dan ekonomis jika dihasilkan dari suatu sistem peternakan ekstensif (forage base) dibandingkan dihasilkan dari pemeliharaan secara intensif.
  3. Pengelolaan secara ekstensif juga memerlukan investasi modal/kapital, jumlah tenaga kerja dan keterampilan yang lebih rendah untuk setiap unit produksi sehingga lebih cocok untuk peternak di NTT pada umumnya.

2.3  Seleksi dan Breeding

  1. Tujuan Breeding

Tujuan pokok dari program perbaikan kualitas genetik ternak sapi bali adalah mendapatkan kelompok ternak berproduktivitas tinggi guna peningkatan pendapatan peternak dan pendapatan asli daerah.

Ternak sapi akan berproduktivitas tinggi bila”

  1. Memiliki angka pertambahan bobot badan harian yang tinggi agar cepat  memberikan keturunan.
  2. Memberikan keturunan setiap tahun dan mampu menyapih anak dalam jumlah banyak dengan berat sapih tinggi  semasa hidupnya.
  3. Memiliki bobot badan dan karkas yang tinggi pada usia relatif mudah.

 

  1. Sasaran dan Kriteria Seleksi

Sasaran dan criteria seleksi yang dapat diterapkan pada program perbaikan kualitas sapi Tabel 1:

Tabel 1 : Sasaran dan Kriteria Seleksi

NO SASARAN  SELEKSI KRITERIA SELEKSI
1 Kesuburan pejantan Lingkar skrotum
2 Kesuburan betina:
a.  Umur pertama beranak Berat sapih dan umur setahun
b. Birahi kembali 90 hari post partus Waktu beranak (calving date)
c. Sifat keindukan (maternal ability) Berat lahir dan berat sapih anak, pertambahan bobot badan prasapih
d.  Kemudahan melahirkan Lebar pinggul
3 Pertumbuhan Berat setahun, pertambahan bobot badan pasca sapih
4 Efisiensi pakan Berat setahun,  pertambahan bobot badan pasca sapih
5 Berat pada umur mendekati 2 tahun (18 – 24 bulan) Berat setahun
6 Berat karkas Berat setahun,  berat  umur 2 tahun

 

2.4  Pengelolaan Seleksi

Melalui seleksi yang ketat terhadap ternak yang dijadikan bibit maka  kelompok ternak yang akan diseleksi merupakan sebuah gen pool  yang selanjutnya  gen-gen unggul  dikawinkan untuk menhasilkan indifidu baru yang memiliki kualitas yang tinggi. Ternak-ternak  calon tetua (siap kawin)  harus memiliki criteria khusus misalnya  tidak menyimpang dari warna standar sapi Bali murni, sehat,  berkondisi baik dan tinggi pundak di atas rerata nasional.  Tinggi pundak menjadi persyaratan utama karena ukuran  tersebut akan relative stabil walaupun ternak dihadapkan dengan lingkungan yang kurang baik dibandingkan dengan ukuran tubuh lain (lingkar dada) serta bobot badan ternak.

Program seleksi mencakup  Uji performans bagi ternak muda dan Uji keturunan bagi calon pejantan yang merupakan kategori terbaik hasil Uji Performans. Pejantan terbaik  dapat dijadikan pejantan pemacek dan induk unggul untuk memperbaiki kualitas ternak. Sebagai contoh dalam keadaan stabil  jumlah induk dan pejantan di  suatu pusat perbibitan  masing-masing  500 dan  20 ekor  (1 : 25).  Melalui pengelolaan yang intensif (tatalaksana reproduksi, seleksi,  pencegahan dan pengobatan penyakit, tata-laksana penggembalaan)  diperoleh parameter berikut:

1. Jumlah induk : 500
2. Jumlah pejantan : 20   (1 : 25)
3 Persentase kelahiran : 90%
4 Persentase kematian anak : 5%
5 Calf  crop : 85.5%
6. Umur beranak I betina

(pakai 5 tahun, replacement rate 20%)

: 2.75 tahun
7 Umur beranak I jantan

(pakai 2 tahun, replacement rate 50%)

: 3 tahun
8 Kematian ternak muda : 2%
9 Kematian ternak dewasa 1%

Sumber : Modifikasi Jelantik (2007)

Berdasarkan kriteria tersebut di atas maka setiap tahun akan dipeoleh:

1. Jumlah induk : 500
2. Jumlah pejantan : 20   (1 : 25)
3 Kelahiran : 450
5 Calf crop (1 tahun) : 448
6. Jumlah anak jantan : 224
7 Jumlah anak betina : 224

Program Seleksi (Uji performans)

Dalam seleksi ini semua ternak muda akan mengikuti program uji performans mendapatkan perlakuan yang sama.  Pemeliharaan ternak mengandalkan potensi padang gembala yang tertata dalam paddock-paddock  penggembalaa seang waktu satu tahun untuk mengamati hasil produksi.Berdasarkan kriteria uji performans maka dapat menghasilkan kategori dan pemanfaatan lanjutan sebagai berikut dengan proyeksi populasi pada Tabel 3 :

Jantan:

1. Jumlah calon pejantan (umur mendekati 2 tahun) : 224
2. Kematian  2% : 4
3 Sisa ternak : 220
5 Replacement pejantan di Breeding Center

(50% penyingkiran dan 1 % kematian)

22
6 Program penggemukan : 188

 

Betina

1. Jumlah  betina : 224
2. Kematian  2% :    4
3 Sisa ternak : 220
5 Replacement induk  di Breeding Center

(20% penyingkiran dan 1 % kematian)

 22
6 Program penggemukan : 66

 

Menurut Jelantik (2007) Kemajuan genetik akan sangat bergantung pada simpangan baku fenotip (SB)  suatu karakter dalam populasi, intensitas seleksi bagi karakter bersangkutan dan angka pewarisan (h2) karakter. Berdasarkan intensitas seleksi seperti di atas maka kemajuan genetik (misalnya untuk karakter tinggi pundak)  dapat diprediksi sebagai berikut:

Komponen Jantan Betina
Proporsi seleksi :  5% :  50%
Intensitas seleksi (i) :  2.063 :  0.80
Heritabilitas  (h2) : 0.4 :  0.4
Rata-rata selang generasi :  3.5 tahun :  5 tahun
Kemajuan genetik per generasi = (i) x ((h2) x SB  

0.83 unit SB

 

0.32 unit SB

                              Kemajuan genetik populasi   =  0.57 unit SB
                              Kemajuan genetik per tahun =  0.13 unit SB

Menurut Jelantik (2006), Apabila pada sejak awal ternak bibit jantan maupun betina yang diseleksi memiliki tinggi pundak minimal masing-masing 110 cm  (rerata 113 cm) dan 105 cm  (rerata 107 cm)   dan simpangan baku untuk jantan dan betina masing-masing 4.12  dan  4.62  cm  (rerata 4.37 cm)  maka ,

     Kemajuan genetik  jantan   =  3.9 cm atau  0. 8 cm  per tahun
     Kemajuan genetik betina    =  1.48 cm atau  0. 34 cm pr tahun
     Setelah satu selang generasi (4.25 tahun).

Jika dalam populasi dimana rerata tinggi gumba (ternak muda) adalah 92.5 cm (misalnya Kabupaten Kupang, Fapet Undana, 2000)  maka dalam satu generasi atau sekitar 4 tahun tinggi gumba akan menjadi  92.5 cm + 0.13 x 4.37 = 98.18 . Ilustrasi ini menunjukkan bahwa betapa pentingya data dasar (rerata dan simpangan baku) dari setiap karakter dalam sebuah populasi.

6. Produksi dan Pemasaran

Dengan berbagai teknologi yang diterapkan dalam rangka optimalisasi produksi, kualitas dan pemanfaatan pakan, dan dengan strategi dan efesiensi pemeliharaan maka produktivitas ternak dapat diharapkan tinggi dengan ekspresi keunggulan genetik tinggi dari hasil seleksi  maka proyeksi perbaikan berbagai parameter produksi dan genetik yang diharapkan akan diperoleh.

Tabel 2 . Proyeksi Perbaikan Berbagai Parameter Produksi  dari hasil seleksi

No. Parameter Kondisi Saat Ini Sekarang 
1. Angka kelahiran 71 % 90 %
2. Musim kelahiran Awal musim kemarau Akhir musim hujan
2. Angka kematian pedet 21 % 5 %
3. Hasil pedet/tahun (Calving yield) 56 % 86 %
4. Jarak beranak (calving interval) 12-18 bulan (15,6 bulan) 12-14 bulan
4. Berat lahir 12 kg 16 kg
5. Pertambahan berat badan harian pedet 0,112 kg 0,4 – 0,6 kg
6. Berat sapih 6 bulan 32 kg 106 kg
7. Berat pada umur 1 tahun 50 – 70 kg 170 – 198 kg
8. Umur beranak pertama 3-4 tahun 2,5 – 3 tahun
9. Angka kematian induk 7 % 2 %
10. Tinggi pundak :

Muda Jantan

Muda betina

Dewasa Jantan

Dewasa Betina

 

103,3 cm

99,7

106,3

104,8

 

111,3 cm

103,1 cm

144,3 cm

107,4 cm

Dengan pencapaian perbaikan berbagai parameter tersebut dengan seleksi yang ketat maka dapat diproyeksikan produksi dari berbagai jenis produk yang dihasilkan seperti :

  1. Bibit jantan super
  2. Bibit betina bakalan super
  3. Bakalan betina penggemukan
  4. Bakalan Jantan penggemukan
  5. Induk dan pejantan afkir untuk digemukkan
  6. Pupuk organik padat (bokashi) dan cair

Jumlah dan kuantitas produk yang dari hasil estimasi penerapan seleksi  ditampilkan pada Tabel  3.

 

Tabel. 3 Proyeksi produksi ternak dari ternak  dengan memasukan berbagai kriteria seleksi

Tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Populasi :  
Induk 500 490 480 489 493 493 496 499 501 504
Jantan 20 20 19 19 20 20 20 20 20 21
Anak betina 225 221 216 220 222 222 223 225 226 227
Anak Jantan 225 221 216 220 222 222 223 225 226 227
Dara 1-2 tahun 0 134 131 129 131 132 132 133 134 134
Jantan 1-2 tahun 0 11 11 11 11 11 11 11 11 11
Dara 2-3 tahun 0 0 131 129 126 129 130 130 130 131
Jantan 2-3 tahun 0 0 11 11 10 11 11 11 11 11
Jml ternak (ekor) 970 1,096 1,216 1,227 1,235 1,239 1,246 1,253 1,259 1,265
Jml ternak (ST) 633 692 785 793 797 800 804 809 813 817
Produksi :
Bakalan Jantan bibit 22 22 21 22 22 22 22 22 22
Bakalan jantan gemukan 187 184 180 183 185 185 186 187 188
Bakalan betina bibit 22 22 21 22 22 22 22 22 22
Bakalan betina gemukan 66 65 64 65 65 65 66 66 66
Induk afkir 118 120 121 121 122 122 123
Jantan afkir 5 5 5 5 5 5 5
Total Produksi Ternak (ekor) 298 292 408 416 419 419 422 424 426

 

PENUTUP

Dari pembahasan diatas maka dapat disimplkan bahwa komoditi sapi local di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi yang dapat dikembangkan dengan program seleksi yang terkontrol dengan demikian akan menghasilkan produk  berupa, Bibit jantan, Bibit betina bakalan, Bakalan betina penggemukan, Bakalan Jantan penggemukan.

Oleh karena itu, disarankan perlu diadakan seleksi yang ketat pada beberapa decade yang sesuai dengan standard dan target potensi yang ingin dicapai.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bamualim, A. B., R. B. Wirdahayati and A. Saleh. 1990. Bali cattle production from Timor island. Research report, BPTP, Lili, Kupang.

Banks, B. 1986. Reproductive performance of Bali cattle in Timor. NTT-LDP Reports, Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Fattah, S. 1998. The productivity of Bali cattle maintained in natural grassland: a case of Oesuu, East Nusa Tenggara. PhD Thesis, Universitas Padjajaran, Bandung.

Jelantik, I G. N., T. Hvelplund, J. Madsen and M. R. Weisbjerg. 2001b. Effect of different levels and sources of rumen degradable protein on intake, nutrient kinetics and utilisation of low quality tropical grass hay by Bali cows. In: I G. N. Jelantik. Improving Bali Cattle (Bibos banteng Wagner) Production through Protein Supplementation. PhD Thesis. The Royal Veterinary and Agricultural University, Copenhage, Denmark.

Jelantik, I G. N., T. Hvelplund, J. Madsen and M. R. Weisbjerg. 2001c. Improving calf performance by supplementation in Bali cattle grazing communal pastures in West Timor, Indonesia. In: I G. N. Jelantik. Improving Bali Cattle (Bibos banteng Wagner) Production through Protein Supplementation. PhD Thesis. The Royal Veterinary and Agricultural University, Copenhagen, Denmark

Jelantik, I.G.N,. 2006. Rancangan Pengembangan Pusat Pembibitan Perdesaan di Kawasan Lantoka, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Laporan Penelitian Pengabdian. Fakultas Peternakan UNDANA. Kupang

Jelantik, I.G.N, 2007. Rancangan Pengembangan Pusat Pembibitan (Breeding Farm) Sapi Bali Timor Konotuef Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Utara.  Laporan Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Sapi Timor Lembaga Penelitian UNDANA.

Kasip, L. M., 1990. Pengamatan Sifat Kualitatif dan Kuantitatif pada Sapi Bali di Pulau Lombok. Laporan Penelitian, Fakultas Peternakan Unram, Mataram

Kirby, G.M.W. 1979. Bali cattle in Australia. World Review of Animal Production. 31. p: 24.

Malelak, G. E. M., I G. N. Jelantik, dan W. A. Lay. 1998. The effect of restricted feeding on the utlisation of dietary nutrients, chemical and physicalcomposition of full body og Bali bulls. Research Report. Undana.

Pane, I. 1990. Upaya meningkatkan mutu genetik sapi Bali di P3Bali. Proc. Seminar Nasional Sapi Bali 20–22 September. hlm: A42.

Pane, I. 1991. Produktivitas dan breeding sapi Bali. Proc. Seminar Nasional Sapi Bali 2–3 September. hlm: 50.

Toelihere, M. R., I. G. N. Jelantik, and P. Kune. 1991. Productive performance of Bali cattle and their crossbred with Friest Holstein. Research Report, Faculty of Anim. Sci, Univ. Nusa Cendana, Kupang.

Wirdahayati, R. B. and A. Bamualim, 1990. Cattle productivity in the province of East Nusa Tenggara, Indonesia. Resarch Report, BPTP, Lili, Kupang.

Mencari Alterntif Meningkatkan Populasi dan Produktivitas Ternak Sapi di NTT

Setiap kebijakan pemerintah mengenai ternak sapi di NTT selalu memancing tanggapan beragam dari berbagai pihak. Hampir semua lapisan masyarakat dari peternak hingga para pakar dari perguruan tinggi juga ikut berbicara dari sekedar mengkritik hingga menyumbangkan pikiran-pikiran cerdas bagaimana memecahkan permasalahan disekitar ternak sapi. Yang menarik adalah fenomena tersebut nampaknya hanya berlaku bagi ternak sapi dan tidak untuk ternak lainnya. Lalu orang mungkin akan bertanya apa sebenarnya keistimewaan ternak ini di bandingkan dengan ternak lainnya ? Ternak pada umumnya mempunyai fungsi ekonomi, sosial budaya hingga sebagai tabungan hidup yang secara efektif mampu menanggulangi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat urgen. Salah satu yang istimewa dari ternak sapi adalah kemudahannya dalam pemasaran. Peternak dapat menjual berapapun jumlahnya, dimanapun dan kapanpun akan menjualnya. Seorang peternak yang membutuhkan uang secara mendadak bahkan dapat menghubungi pembeli dan melakukan transaksi pada tengah malam! Kenyataan ini tentu saja sulit ditemukan pada ternak lainnya atau bahkan komoditi pertanian lainnya. Rasanya sulit menjual babi misalnya pada tengah malam atau beras yang notabene makanan pokok orang Indonesia juga tidak gampang menjualnya terutama jika dalam jumlah banyak.

Tanpa bermaksud ingin mengulas lebih dalam keistimewaan ternak sapi dibandingkan dengan ternak lainnya. Penulis ingin menggiring pembaca bahwa betapa keistimewaan ini dengan mudah dapat hilang begitu saja dalam era pasar bebas pada masa-masa mendatang. Kemudahan pemasaran ternak sapi dipicu oleh ketimpangan yang sangat besar antara kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply). Kebutuhan daging nasional luar biasa besarnya dan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan pola hidup (life style). Konsumsi daging nasional hingga kini hanya 4,45 kg/kapita/tahun, dan  merupakan terendah di Asia. Kendati demikian konsumsi daging di Indonesia sudah  mencapai 890.000 ton setiap tahunnya, suatu besaran kebutuhan yang sangat besar. Besaran kebutuhan ini terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Bisa dibayangkan, jika jumlah penduduk meningkat 1% saja per tahunnya, maka  kebutuhan daging akan meningkat lebih  8.900 ton setiap tahunnya.

Kelangkaan suplai relatif terhadap kebutuhan menyebabkan harga daging di Indonesia menjadi relatif tinggi dan mungkin akan terus meningkat. Peningkatan harga ini mungkin akan secara langsung berdampak positif daerah-daerah penghasil ternak sapi seperti NTT. Namun disisi lainnya, daging makin tak terjangkau oleh kebanyakan konsumen. Kenyataan ini tentu tidak diinginkan oleh kebanyakan diantara kita karena selain kemampuannya dalam memuaskan lidah manusia daging sapi juga mengandung zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Berdasarkan alasan tersebutlah pemerintah akhirnya membuka kran import daging maupun sapi hidup (bakalan) dari luar negeri. Sejalan dengan semakin melebarnya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan ternak sapi, import daging terus meningkat dari 800 ton tahun 1975 menjadi 15.900 ton tahun 1997. Sementara itu untuk memacu industri penggemukan nasional pemerintah mengimpor sapi bakalan hingga lebih 400.000 pada tahun 2002 lalu.

Kebijakan pemerintah untuk membuka kran impor tersebut sejak awalnya tentu saja ‘kurang’ disetujui oleh peternak lokal karena jelas-jelas akan mengurangi posisi tawar produknya. Ratusan ribu peternak sapi di Indonesia kontan ketar-ketir karena merasa usahanya akan terancam atau bisa-bisa akan gulung tikar. Orang awam mungkin akan bertanya kenapa peternak kita gelisah dan takut akan sapi impor? Peternak kita tentu saja sangat takut karena ‘keuntungan’ akan segera menurun drastis karena harga akan langsung turun. Turunnya harga tersebut jelas merupakan konsekuensi imbangan antara kebutuhan dan suplai yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Tadinya kebutuhan jauh melebihi suplai sehingga harga bisa dikontrol oleh produsen, sekarang suplai jauh melebihi kebutuhan. Apa akibatnya? Ternak kita menjadi sulit dijual dan konsekuensinya terjadi kompetisi harga. Siapa yang berani menjual lebih murah dialah yang akan mampu menjual lebih banyak. Lalu bisakah kita menjual sapi lebih murah dari sapi impor? Untuk

Namun pertanyaannya adalah bisakah kita (peternak sapi) mendesak kepada pemerintah dalam era globalisasi untuk tidak atau membatasi impor sapi kendati kita bisa menghasilkan sapi sendiri? Jawabannya ‘mungkin’ tidak. Namun demikian dalam era globalisasi nanti imbangan antara demand dan suplai tidaklah lagi demikian. Suka atau tidak suka kita harus bersaing dengan negara luar yang mungkin suatu saat nanti dapat secara bebas memasarkan harus produk ternak sapinya di Indonesia termasuk di Kupang. Baru menghadapi negara seperti Australia saja kita sudah keteter akibat anjloknya harga sapi di dalam negeri. Peternakpun sekarang ini lesu dan dengan demikian gairah beternakpun menurun. Belum lagi kita menghadapi saingan lainnya yang mungkin lebih efisien dalam memproduksi ternak sapi. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Canada atau pendatang baru seperti Argentina, Brazil bahkan negara-negara dari Afrika tengah seperti boswana dan burundi yang mampu menjual daging dengan sangat murah. Negara-negara eropa yang sudah maju saja peternakannya sulit membendung mereka apalagi kita.

Jasa Analisis Data Statistik, Kupang_NTT

Jasa Analisis Data Statistik, Kupang NTT

Kami adalah penyedia pengolahan data statistik penelitian, pengolahan data dan konsultasi statistik untuk SKRIPSI / THESIS, yang beranggotakan tim yang kompeten dalam bidang statistik. Telah berpengalaman lebih dari 7 tahun dalam bidang pengolahan data dan telah menangani lebih dari 1000 klien menggunakan software SPSS 23.
Klien kami sampai saat ini berasal dari Perusahaan, Konsultan, Mahasiswa yang sedang dalam proses pengerjaan Skripsi/Thesis dan Institusi Pemerintah. Bagi Anda yang sedang dalam proses mengerjakan skripsi atau thesis dan sedang kesulitan dalam melakukan pengolahan data, kami melayani jasa pengolahan data statistik untuk menyelesaikan masalah statistik Anda.
Jasa yang kami sediakan, antara lain:
  1. Olah Data Statistik
  2. Entri Data Kuesioner
  3. Survei Kepuasan Pelanggan
  4. Riset Pasar dll

Contoh metode analisis, antara lain:

1. Statistik Deskriptif :

– Mean & Standar deviasi
– Tabulasi silang (Crosstab)

2. Statistik inferensia :

– Uji rata-rata
– Uji proporsi

3. Uji instrumen data :

– Uji validitas
– Uji Reliabilitas

4. Uji hipotesis :

– One Sample T-test
– Independent Sample T-test
– Paired Sample T-test
– One Way ANOVA
– Two Way ANOVA
– Multivariate ANOVA (MANOVA)

5. Uji asumsi klasik :

– Normalitas
– Autokorelasi

 

Apa Itu Ayam Kampung Unggul Balitnak (KUB)

Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Balitnak) PDF Cetak E-mail
Sumber : http://balitnak.litbang.pertanian.go.id/index.php/info-teknologi/14-bibit/51-ayam-kub-ayam-kampung-unggul-balitnak

Senin, 12 Desember 2011 12:51

 

Pemeliharaan ayam kampung pada umumnya masih dilakukan secara ekstensif tradisional atau secara diumbar di halaman dan di kebun sekitar rumah, sehingga produktivitasnya rendah. Dengan merebaknya penyakit Flu burung yang menyerang ternak unggas akhir-akhir ini,  pemeliharaan secara dilepas tidak dianjurkan lagi. Ayam kampung lebih dianjurkan untuk dipelihara secara intensif. Permasalahan yang dihadapi dalam pengembangan ayam kampung secara intensif,  adalah sulitnya memperoleh bibit yang unggul, karena belum banyak yang mengusahakan bibit ayam kampung dalam jumlah banyak.

Dalam upaya merespon kebutuhan teknologi pembibitan ayam kampung unggul, Balai Penelitian ternak telah melakukan berbagai kegiatan penelitian pada ayam kampung. Hasil penelitian menunjukkan, melalui teknologi seleksi disertai sistem pemeliharaan yang intensif produktivitasnya dapat ditingkatkan. Dari Hasil seleksi ini dihasilkan ayam kampung unggul yang disebut dengan Ayam Kampung Unggul Balitnak (Ayam KUB).

Tahapan Kegiatan Seleksi

Kegiatan seleksi untuk mendapatkan ayam kampung unggul,  telah diawali sejak tahun 1997 dengan cara mengambil calon bibit dari berbagai daerah di Jawa Barat yang meliputi Jatiwangi, Depok, Karakal Ciawi, DKI dan Cianjur.

Calon bibit ayam kampung tersebut, dipelihara secara intensif  di kandang Percobaan Balitnak Ciawi. Perkawinan, dilakukan dengan teknik kawin suntik (IB) yang diikuti dengan recording yang ketat untuk menghindari terjadinya in breeding. Selama periode pemeliharaan, diberikan pakan standard yang sesuai dengan kebutuhan gizi ayam kampung.

Seleksi yang dilakukan terhadap induk-induk ayam kampung meliputi produktisi telur dan sifat mengeram. Pada induk ayam yang mempunyai sifat mengeram lama dan sering, dilakukan pengafkiran (culling). Seleksi juga dilakukan pada ayam pejantan dengan memeriksa kualitas spermanya.

Seleksi, dari generasi ke -1 sampai generasi ke – 6 dilakukan dengan tahapan

sebagai berikut.

  1. Produksi telur setiap generasi diamati selama 6 bulan, kemudian dilakukan seleksi  individu pada ayam yang mempunyai rataan produksi telur 50 % terbaik dan memiliki sifat tidak mengeram.
  2. Hasil seleksi tersebut disebut G1 (generasi 1) yang kemudian diperbanyak untuk menghasilkan F1.
  3. Evaluasi produksi telur pada F1 juga dilakukan selama 6 bulan dan diseleksi dengan kriteria seleksi yang sama untuk menghasilkan G2 dan seterusnya sampai G6 (generasi 6).

Seleksi dalam Pembentukan ayam kampung unggul yang kini disebut sebagai Ayam KUB (Ayam Kampung Unggul Balitnak) telah dilakukan selama 6 generasi,  dimana satu generasi memerlukan waktu selama 12-18 bulan.

Karakteristik dan Keunggulan Ayam KUB :

  • Warna bulu beragam, seperti ayam kampung pada umumnya
  • Bobot badan : 1.200 -1.600 gram
  • bobot telur :  35-45 gram.
  • Umur pertama bertelur  lebih awal (20 – 22 minggu)
  • Produktivitas telur lebih tinggi (160 -180 butir/ekor/tahun)
  • Produksi telur (henday) :  50 %
  • Puncak produksi telur : 65 %
  • Lebih tahan terhadap penyakit

 

Informasi  konsultasi dan Pemesanan DOC KUB untuk Wilayah NTT dapat menghubungi Konsutlan marketing Wilayah NTT 

dengan Alamat. Desa Baumata Timur, Dusun Neketuka Kab, Kupang

TPL/SMS/WA : 0811179677 (Afro Making)

 

 

FARM MANAGEMENT: WAYS YOU CAN MOTIVATE FARM EMPLOYEES

FARM MANAGEMENT: WAYS YOU CAN MOTIVATE FARM EMPLOYEES

*(Gania Farms)*

Good farm employees are hard to find, and even harder to keep. It seems that today, people just don’t have the work ethic they used to. But you, as a farm manager/owner, have a role to play too.

Believe it or not, it’s easy to motivate people if you have the right plan.

Where does the strength of your farm business or agribusiness lie?

2. Your Capital or Intellectual sagacity? No!

Your motivation strategies for your farm employees is the strength of your farm enterprise. It is very possible you materialize the best feasibility plan but still have a poor yield or complete loss of revenue. It all depends on how you manage your farm workers.

The farm business is a unique business unlike other types of businesses, where there is a vertical relationship between the boss and the employees; farm business is not like that. Everyone is the boss in a farm business because everyone plays a significant role in the success of the farm business; everyone has to soil his or her hands.

In fact, because you are the boss should make you very humble and treat your farm workers as though they are kings, invariably they are.

If your farm employees do not willingly commit extra efforts towards the success of the farm enterprise, then you really need to check your managerial skill.

Being a farm worker calls for more attention; truth be told, there is no off-days in a farm business but everyone has to go home at the end of the long day to rest with their families.

However, when you motivate your farm workers well, he or she would always put your business, not you, first in his or her priority list.

Many farm owners or CEO think the salary or wages they pay is the ultimate form of motivation their farm employees need from them. This is a very wrong assumption.

As a matter of fact, if a farm employee works for you based on the magnitude or value of the salary you pay, your farm would fold up in no time. Motivating farm employees is not about the cash but more of the kind.

Motivation Strategies For Farm Employees

Show Them What To Do

How often do you stay with your farm workers on the field and what is your intention for doing so?

Most of the farm owners visit their workers on the field to find faults on their assigned task. This is not good enough.

You need to create time to stay with your farm employees on the field, not because you want to supervise or to hunt their flaws but because you want them to see the spirit of workmanship in you.

They would love it, it would boost their morale and in turn, increase their efficiency.

Give incentives

How often do you visit your farm employee family?

The incentive does not necessary means money, although it is part of it. Give incentives in cash and kind.

Pay courtesy visits to your employee’s homes, relate with their family members, ask about the academic pursuits of their wards, offer a piece of advice and pray with them before living. The positive effects of this emotional incentive are unfathomable.

Don’t be a Bossy boss

You and I know what it takes to nurse a business right from the mind to its materialization, it is indeed a hard nut you’ve cracked.

But remember, it is no longer your business, you have called more hands, in form of employment, to help you materialize your dream. The truth is your employees never wanted you, you called for them and they responded you, hence, you have to respect their courage and sacrifice.

Truly you own the business but you earn from their sweat, effort, sacrifice and not your business in the real sense. They are the soul of your business.

I hope you know the importance of the soul in your body.

Always put yourself in their shoes in any decision you want to make; make their convenience your priority and watch how your business would flourish.

Be open when making a decision

At some points in your farm business, you make decisions in accordance with the production function or market information. Make this open.

Make suggestions and decide on the next action based on individual contribution. This practice is always absent in a farm system.

Mind your expression

You all know how boisterous we feel having a large farm. In a farm business, it does not work that way. You need to mind your expressions with your farm workers. Avoid using the following expressions:

What have you done today that makes you feel so tired? You have to finish this portion or task before going home today…
The bottom line is, do not be harsh with your farm workers. Try as much as possible to be compassionate and not authoritative.

In conclusion,

How do you feel now?

It is high time you reshuffled your managerial skill by adopting some of the aforementioned motivation strategies for your farm employees to make the working conditions favorable to your employees.

Credit to : justagric.com

Causes of egg defects and how to cure them

Causes of egg defects and how to cure them

(Poultry farming Uganda)

Once in a while, every poultry farmer finds her birds have laid abnormal eggs. Abnormal in the sense that the eggs have weak shells or internal defects.

An occasional egg abnormality from the flock is no cause for panic, however, its persistency should be a matter of concern. Egg abnormalities in chicken can occur due to various factors.

In the absence of obvious disease symptoms such as sudden drop in production, respiratory problems and weight loss, potential environmental and dietary issues should be explored and once identified, remedied. While these abnormalities greatly affect the hatchability of the eggs, abnormal eggs can be consumed but those caused by infectious diseases are not safe for consumption and, thus, should be disposed.

Thin-shelled eggs or shell-less eggs are the most common defects in poultry farms. Young hens usually produce the first few eggs with shell defects since their reproductive tract is not fully matured. Upon maturity, the defect ceases and egg production peaks.

During this period, an occasional shell defect may occur and is nothing to worry about. It is mostly caused by temporary malfunctions in the shelling gland, the uterus or for some reason an egg is rushed through the uterus and laid prematurely.

Since the shell forms just before an egg is laid, stress induced by fright or excitement can cause a hen to expel an egg before the shelling process is finished. However, if these shell defects persist, they may be a sign of a serious disease, especially infectious bronchitis, which is accompanied by a drop in production and is highly-contagious with an infection rate of 100 per cent. However, if some hens are unaffected, this disease can be excluded.

Nutritional deficiencies, especially lack of Vitamin D or calcium impact the formation of the eggshell, resulting to abnormalities.

Calcium requirements in laying hens increase by age and warm weather. High temperatures reduce appetite, therefore, hens eat less and get less calcium from their rations. Nutritional deficiencies can be remedied by appropriate supplementation of the layers’ diet with crushed eggshells, limestone or limestone flour, and Vitamin A, D & E powder added to drinking water three times a week.

It should be noted that excessive consumption of calcium or phosphorus is likely to result in eggs with an abnormally thick or rough shells. Genetic defect could also be a cause for shell abnormalities.Bloody shells sometimes appear when pullets start laying before their bodies are ready, causing tissue to tear.

In mature birds, this could be caused by excess protein in the layers’ ration or coccidiosis, a disease that causes intestinal bleeding, though not common in adult birds. Odd-shaped or wrinkled eggs may be laid if a hen has been handled roughly or if for some reason her ovary releases two yolks within a few hours of each other, causing them to move through the oviduct close together.

The second egg will have a thin, wrinkled shell that’s flat towards the pointed end. If it bumps against the first egg, the shell may crack and mend back together before the egg is laid, causing a wrinkle.

Small-sized eggs of less than 35 grams usually don’t have yolks and such eggs can’t be used for hatching but may be consumed. This is common among young hens whose laying mechanisms have not fully matured. In matured hens, this could be indicative of pieces of reproductive tissues breaking away and stimulating the egg formation process in the reproductive tract.

Double yolk eggs occur when ovulation happens too rapidly or when one yolk becomes joined with another. This is mostly seen in young hens that have not reached reproductive maturity yet and have unsynchronised reproductive cycles (roughly, it takes 22 – 25 hours to form and lay an egg).

Blood spots inside the egg can be genetic, as well as sudden environmental temperature changes. The incidence of blood spots inside the egg also increases with age.

________________________________________