INETRAKSI NUTRISI dan LINGKUNGAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TERNAK GEMBALA

MAKALAH

INTERAKSI NUTRISI DAN LINGKUNGAN

(INETRAKSI NUTRISI dan LINGKUNGAN TERHADAP PRODUKTIVITAS TERNAK GEMBALA)

 

 

 

OLEH

 

 

MARDIANUS EPAFRODITUS ILI

 

 

 

PROGRAM STUDI ILMU PETERNAKAN

PROGRAM PASCA SARJANA

UNIVERSITAS NUSA CENDANA

KUPANG

2013

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang.

Lingkungan adalah sesuatu yang sangat luas, mengacu pada semua faktor selain genetik, yang mempengaruhi produktivitas dan kesehatan seekor ternak. Secara langsung lingkungan berpengaruh terhadap tingkat produksi melalui metabolisme basal, konsumsi makanan, gerak laju makanan, kebutuhan pemeliharaan, reproduksi pertumbuhan dan produksi susu. Sementara kualitas dan ketersediaan makanan dipengaruhi secara tidak langsung.Faktor lingkungan adalah faktor yang memberikan pengaruh cukup besar terhadap tingkat produksi.Di beberapa daerah tropis, produktivtas ternak dibatasi oleh kekurangan pakan disebabkan oleh musim kemarau dan kekeringan. Selama periode tersebut ternak terutama bergantung pada rumput berkualitas rendah dan limbah pertanian dengan sedikit atau tidak adasuplemen, menyebabkan rendah produktifitasternak..Iklim merupakan faktorlingkungan yang langsung berpengaruh terhadapproduktivitasnya “ciri khas dan pola hidup dari suatu ternak, jumlah konsumsi pakan dan minum, ketersediaan energi di dalam pakan tercerna, sistem produksi energi hewan, serta energi neto yang akan dipakai untuk pertumbuhan dan reproduksi“.Berkaitan dengan uraian diatas maka dalam makalah ini penulis menelah Inetraksi Nutrisi DanLingkungan Terhadap Produktivitas Ternak Gembala

1.2  Tujuan

Untuk mengetahui Inetraksi Nutrisi Dan Lingkungan Terhadap Produktivitas Ternak Gembala.

 

 

PEMBAHASAN

Ternak gembala termasuk dalam kelompok hewan berdara panas(homeoterm) yang mampuh menjaga temperatur tubuh dalam keadaan konstan sehingga kondisi biologisnya dapat berlangsung secara normal (Tillman, et al., 1991). Suwito (2000) dalam pembahasan mengenai dampak lingkungan terhadap pengelolaan ternak mengemukakan bahwa performans ternak dipengaruhi oleh lingkungan. Lingkungan yang tidak memadai mengakibatkan perubahan fisiologis dan tingkah laku ternak.Seperti yang dijelaskan di atas bahwa iklim faktor utama dalam mempengaruhi prodktivitas ternak baik secara langsung maupun tidak langsung.

Pengaruh iklim secara langsung maupun tidak lansung, menyebabkan timbulnya berbagai problem terhadap produksi tanaman, kualitas (Hijauan Makanan Ternak) dan ternak itu sendiri terutama di daerah yang beriklim panas.

2.1  Dinamika Lingkungan Terhadap Produksi Dan Kualitas Hijauan Makanan Ternak Gembala.

2.1.1        PengaruhFluktuasi musim Terhadap Produksi HMT

Dalam rangka peningkatan produksi dan produktivitas ternak yang berada pada daerah beriklim tropis dimana memiliki musim hujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang (8-9 bulan) yang sangat berhubungan erat dengan kondisi temperature.Untuk menjawab tujuan tersebut penulis mengkaji beberapa hasil penelitian (lihat tabel 1) yang berhubungan dengan keadaan temperature terhadap produksi hijauan makan ternak antara lain oleh Bamualim, (1988, 1994), menunjukan produksi HMT 2670-2700 kg BK/ha pada musim hujan dengan temperature berkisar antara 20 0C-26 0C, sedangkan pada musim kemarau 545-700 kg BK/ha. Sementara yang diperoleh Sukristiyonubowo, dkk (2000) produksi HMT pada musim hujan 23.80 ton/ha dan 19.84 ton/ha di musim kemarau. Belakang Damry (2009) memperoleh produksi HMT pada musim hujan sebesar 2160 kg BK/ha.

Perbedaan mendasar dari produksi HMT yang dipeoleh menunjukan bahwa pertumbuhan dan produksi HMT semakin menurun dari setiap decade penelitian berhubungan erat dengan kondisi iklim yang semakin berubah setiap tahunnya. Artinya semakin tinggi temperatur, maka umur Hijauan Makanan Ternak akan semakin pendek yang akhirnya berdampak pada waktu penumpukan fotosintat dan pembentukan biomassa yang lebih rendah (Syarifuddin, 2011). Faktor lainnya yang berhubungan adalah kemampuan adapatasi spesies HMTpada kondisi temperature yang berubah-ubah, yang berakibat pada rendanya produksi HMT.

Tabel 1. Pengaruh Fluktuasi Musim Terhadap Produksi HMT

Musim hujan Musim kemarau Pustaka
Produksi Produksi
2700 kg BK/ha 700 kg BK/ha Bamualim, (1988)
2670 kg BK/ha 545 kgBK/ha Bamualim dkk (1994)
23.80 ton/ha 19.84 ton/ha Sukristiyonubowo, I.G dkk (2000)
2160 kg BK/ha Damry (2009)

Susetyo, dkk., (1980) berpendapat produksi hijauan merupakan produksikumulatif panen selama satu tahun seluas lahan penanaman. Produksi bahan kering suatu tanaman antara lain dipengaruhi oleh spesies tanaman, fase tumbuh, kesuburan tanah, air tanah, umur tanaman, organ tanaman, kondisi lingkungan. Guslim (2007) Produksi tanaman juga dipengaruhi oleh radiasi matahari dan temperatur. Menurut Reksohadiprodjo (1994), faktor-faktor yang mempengaruhikadar bahan kering antara lain: jenis tanaman, fase pertumbuhan, saat pemotongan, air tanah serta kesuburan tanah.

Hal ini Burt, (1968) mencatat bahwa spesies HMT yang bertumbuh pada temperature optimal, apabila mendapatkan cekaman temperature diatas atau dibahwa menghambat laju pertumbuhan. Sebagai pembanding tanaman Cenhrus ciliaris di Australia yang tumbuh selama 2 minggu dengan perlakuan 250C, kemudian diselingi dengan temperatur 100C selama 1 minggu kemudian dikembalikan ke temperatur normal, ternyata selama temperatur rendah menghambat pertumbuhan, terutama munculnya rizhoma dan perkembangan akar.

Radiasi yang diterima di permukaan bumi sementara tinggi rendahnya temperatur disekitar Hijauan Makanan Ternak ditentukan oleh radiasi matahari, kerapatan Hijauan Makanan Ternak, distribusi cahaya dalam tajuk Hijauan Makanan Ternak, kandungan unsure hara tanah.

2.1.2.      PengaruhFluktuasi musimTerhadap Kualitas HMT Gembala.

Dari data Tabel 1 dan 2 menunjukan produksi dan kualitas HMT ternak yang berada pada daerah beriklim tropis dimana memiliki musim hujan yang pendek dan musim kemarau yang panjang (8-9 bulan) yang sangat berhubungan erat dengan kondisi temperatur. Hasil kajian dari penelitian yang berhubungan dengan keadaan temperature terhadap kualitashijauan makan ternak berdasarkan konsentrasi Protein Kasar (PK) antara lainoleh Riwu Kaho, (1986, 1993), melaporkan bahwa pada bulan Januari-Maret protein kasar HMT berkisar antara 5-9 %, namun kualitas HMT akan menurun pada pad bulan Juli-September kadar protein kasar menjadi 2-5%. Sementara yang diperoleh Aoetpah, (2002) kadar protein kasar pada musim hujan berkisar antara 6-10% dan 2.26 -3 % di musim kemarau. Belakang Damry, (2009); Brigida, (2009) mencatat kadar protein kasar pada musim hujan sebesar 6.05-14 % dan 6-12 % di musim kemarau. Konsentrasi PK yang stabil diperoleh Damry, (2009); Brigida, (2009) pada musim kemarau diasumsikan dimana kondisi HMT telah mampuh menyesuaikan diri pada kondisi iklim tropis dengan temperatur dingin pada malam harinya dan juga keadaan HMT beradap pada daerah naungan, sehingga kemampuan pembentukan lignin diperhambat dengan demikian berpengaruh positif terhadap kualitas.

Tabel 2 : Pengaruh Fluktuasi MusimTerhadap Kualitas HMT

Musim hujan Musim kemarau Pustaka
Kualitas Kualitas
PK 5-8% PK 3% Riwu Kaho (1986)
PK 6.2-9% PK 2-5% Riwu Kaho (1993)
PK 7-10% PK 2.26-2.8% Aoetpah, (2002)
PK 5.8% PK 3% Aoetpah, (2002)
PK 6.05-14% PK 5.74-11.49% Brigida (2009); Damry (2009)

 

Perbedaan mendasar dari kualitas HMT yang diperoleh menunjukan bahwa pertumbuhan dan produksi HMT semakin menurun dari setiap decade penelitian berhubungan erat dengan kondisi temperature yang semakin berubah setiap tahunnya.Faktor lainnya yang berhubungan adalah kemampuan adapatasi spesies HMT pada kondisi temperature yang berubah-ubah, dan kehilangan naungan akibat dari kerusakan padang atau hutan..

Hal ini menurut (Sumarsono,2007) mencatat bahwa spesies HMT yang bertumbuh pada temperature optimal, apabila mendapatkan cekaman temperature diatas atau dibahwa menghambat laju pertumbuhan namun meningkatkan kualitas dari pada HMT. Sebagai pembanding Iannucci (2007) mengemukanan bahwa Tanaman yang kadar karbohidrat tinggi lebih tahan terhadap temperatur ekstrem tinggi, karena denaturasi karbohidrat lebih tahan dibandingkan protein. Denaturasi portein terjadi pada temperatur 450C, sedangkan karbohidrat dapat rusak pada temperatur diatas 550C, bahkan ada yang sampai 850C.

2.2  DinamikaLinkungan Terhadap Produktivitas Ternak Gambala

Ensminger et al. (1990) menjelaskan lingkungan ialah semua keadaan, kondisi, dan pengaruh sekitarnya yang dapat mempengaruhi pertumbuhan, perkembangan, dan produktivitas ternak.Untuk mempertahankan hidup, pertumbuhan, dan produksi maksimal serta kebutuhan fisiologinya, hewan membutuhkan lingkungan yang cocok. Berkurangnya performa pada ternak yang mengalami cekaman panas dan dingin merupakan akibat dari gangguan pada proses termogulasi yang mempengaruhi perubahan keseimbangan energi, air, dan endokrin (Johnson, 1987).

Cekaman lingkungan pada ruminansia dapat menyebabkan terjadinya perubahan pola konsumsi pakan dan pembagian zat makanan untuk kebutuhan pokok dan produksi. Secara fisiologis tubuh ternak akan bereaksi terhadap rangsangan yang mengganggu fisiologis normal, sebagai ilustrasi ternak akan mengalami cekaman panas jika jumlah rataan produksi panas tubuh dan penyerapan radiasi panas dari sekelilingnya lebih besar daripada rataan panas yang hilang dari tubuh (Devendra dan Faylon, 1989). Lingkungan domba dapat dipengaruhi melalui dua jalan, yaitu yang pertama adalah dengan mempengaruhi hijauan (pakan) dan pasokan makanan dan air serta pola penyakit yang dikenal faktor tidak langsung; sedang yang kedua ialah mempengaruhi domba secara langsung yang pengaruh lingkungan utamanya kecepatan angin, suhu, dan kelembaban udara (lingkungan fisik), namun dari semua pengaruh lingkungan pada domba tropis cekaman panas biasanya yang paling serius (Devendra dan Faylon, 1989). Cekaman dingin dapat berakibat fatal pada domba yang baru lahir, karena metabolisme tubuh mereka tidak cukup untuk memelihara suhu tubuh normal (Edey, 1983).

Thermonetral Zone (TNZ) adalah daerah yang nyaman dengan suhu lingkungan yang sesuai untuk ternak. Daerah termonetral bagi hewan ternak merupakan kisaran suhu udara yang paling sesuai dengan kehidupannya, dimana terjadi metabolisme basal dan hanya terjadi pengaturan panas secara sensible dengan menggunakan energi yang paling sedikit, kisaran suhu udara tersebut tidak menyebabkan peningkatan atau penurunan fungsi tubuh (Mc Dowell, 1972). Peningkatan atau penurunan suhu lingkungan terhadap suhu nyaman, akan mengakibatkan peningkatan produksi panas dalam upaya membuang kelebihan panas atau mempertahankan panas tubuh. Suhu kritis terendah yang dapat diterima oleh ternak disebut Lower Critical Temperature (LCT) dan suhu kritis teratas yang dapat diterima oleh ternak disebut Upper Critical Temperature (UCT).Menurut Yousef (1985) daerah TNZ untuk domba yang baru lahir berada pada suhu lingkungan antara 29-30 0C, sedangkan untuk domba dalam pemeliharaan berada pada suhu lingkungan antara 22-31 0C.

Produktivitas adalah hasil yang diperoleh dari seekor ternak pada ukuran waktu tertentu (Hardjosubroto, 1994), dan Seiffert (1978) menyatakan bahwa produktivitas sapi potong biasanya dinyatakan sebagai fungsi dari tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Wodzicka-Tomaszewska et al. (1988) menyatakan bahwa aspek produksi seekor ternak tidak dapat dipisahkan dari reproduksi ternak yang bersangkutan, dapat dikatakan bahwa tanpa berlangsungnya reproduksi tidak akan terjadi produksi. Dijelaskan pula bahwa tingkat dan efesiensi produksi ternak dibatasi oleh tingkat dan efesiensi reproduksinya. Dalton (1987) menyatakan bahwa produktivitas nyata ternak merupakan hasil pengaruh genetik dan lingkungan terhadap komponen-komponen produktivitas. Selanjutnya Warwick dan Lagetes (1979) menyatakan bahwa performan seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh komulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak bersangkutan sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Hardjosubroto (1994) dan Astuti (1999) menyatakan bahwa faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak sedang faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin panampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik.

Trikesowo et al. (1993) menyatakan bahwa yang termasuk dalam komponen produktivitas ternak adalah jumlah kebuntingan, kelahiran, kematian, panen pedet (calf crop)atau cempe, perbandingan anak jantan dan betina, jarak beranak, bobot sapih, bobot setahun (yearling), bobot potong dan pertambahan bobot badan.

2.3  DinamikaLingkungan Terhadap Reproduksi Ternak Gembala.

Terdapat banyak bukti memperhatikan mengenai dampak lingkungan terhadap reproduksi ternak gembala di daerah tropis.Cekaman lingkungan (panas) mempengaruhi perilaku seksual ternak, kualitas dan kuantitas sperma yang dihasilkan , ovum setelah fertilisasi, pertumbuhan janin dalam kandungan bahakan kehidupan anak setelah partus. Dutt et al (1959)melakukan penelitian permulaan klasik ada ternak domba yang diekspos pada suhu 32,20C terjadi penurunan fertilitas dan peningkatan angkah kematian embrio.Sementara Alexander dan William (1971) berpendapat peningkatan suhu panas berpengaruh terhadap fase kebuntingan akhir pada ternak domba dengan berat lahir menurun sebesar 50%. Namun menjadi persoalan adalah efekenya terhadap tingkat reproduksi sapi bali di padang penggembalaan NTT, dimana fetilisasi pada sapi bali terjadi pada puncak musim kemarau (agustus sampai September). Smentara pada ternak jantan perubahan suhu berpengaruh terhadap waktu pubertas dan menurunnya kualitas dan kuantitas sperma.

 

Tabel 3 : Rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi potong di Indonesia.

Bangsa Kelahiran Kematian Calf crop
Brahman

Brahman cross

Ongole

Lokal cross

Bali

50,71

47,76

51,04

62,47

52,15

10,35

5,58

4,13

1,62

2,64

48,80

45,87

48,53

62,02

51,40

Sumber :Pane, (1989).

Tabel4.Rataan Bobot Lahir Dan Bobot Sapih Kambing Kacang Berdasarkan Triwulanan Per Priode Musim

Kejadian kelahiran Litter size Bobot lahir(kg) Bobot sapih (kg)
Akhirmusim hujan 1.46 1.59 6.19
Awal musim kemarau 1.47 1.74 6.47
Akhirmusim kemarau 1.23 1.77 6.09
Awala musim hujan 1.31 1.72 6.89

Sumber :Nasution (2010).

Dari Table 4diatasmemperlihatkan bahwa bobot cempe yang disapih pada empat periode musim tersebut yang diperoleh Nasution (2010) tidak berbeda nyata (P > 0,05). Namun ada kecenderungan bahwa anak yang lahir pada awal musim hujan memiliki bobot sapih yang lebih tinggi walaupun secara statistik tidak signifikan. Penelitian pada domba memperlihatkan bahwa pengaruh musim tidak terlalu signifikan terhadap bobot sapih, sebagaimana dilaporkan oleh NOOR (2006), bahwa keragaman bobot sapih sebagian besar dipengaruhi oleh ragam gen aditif dan hanya sebagian kecil yang dipengaruhi ragam lingkungan. Selain itu juga dikarenakan produksi susu induk sudah mampu untuk memenuhi kebutuhan cempe pada musim yang berbeda selama masa prasapih. Bobot sapih banyak dipengaruhi oleh bobot lahir, banyaknya susu induk, jenis kelamin, dan banyaknya anak dalam satu kelahiran (Lasley, 1978). Laju pertumbuhan anak yang cepat mempunyai peranan yang penting pada pencapaian bobot sapih yang tinggi (Speedy, 1982).

2.4  Dinamika Lingkungan Terhadap Pertumbuhan Ternak Gembala

Perumbuhan ternak domestic sangat dipengaruhi oleh keadaan cekaman panas.Efek cekaman panas pada ternak yang sedang bertumbuh mengalami tekanan lebih besar dibandingkan ternak dewasa.Penurunan pertumbuhan ternak berhubungan dengan konsumsi pakan, menurunnya tingkat metabolism dan meningkatnya katabolisme jaringan tubuh.Penyebab utama menurunnya pertumbuhan ternak berhubungan dengan berkurangnya produksi panas tubuh dan penggunan energy pakan untuk mengeluarkan panas dari tubuh.

Tabel 5 : Rataan Pertambahan Bobot Hidup Harian Prasapih Kambing KacangBerdasarkan Triwulanan Per Priode Musim

Kejadian kelahiran PBHh (g/ekor/hr)
Akhirmusim hujan 49.23
Awal musim kemarau 51.91
Akhirmusim kemarau 46.85
Awala musim hujan 52.33

Sumber :Nasution (2010).

Data hasil penelitian Nasution (2010) terhadap laju pertumbuhan anak kambing kacang (cempe)disajikan pada Tabel 5, laju pertumbuhan cempe yang dilahirkan pada akhir musimkemarau dan awal musim penghujan menunjukkan perbedaan pertambahan bobothidup harian (PBHh) yang signifikan (P <0,05) sampai masa penyapihan dengan umur 90 hari. Laju pertumbuhan cempe yang paling tinggi adalah cempe yang lahir pada awal musim penghujan dan yang paling rendah cempe yang lahir pada akhir musim kemarau.Tingginya pertambahan bobot hidup harian(PBHh) pada awal musim hujan merupakan pengaruh langsung dari ketersediaan hijuan pakan yang cukup serta temperatur udara yangyang nyaman. Cempe sangat tergantung padasusu induk, karena pada saat ini susu merupakan sumber makan utama sebelumsapih. Produksi susu induk sangat tergantung dengan kondisi pakan terutama hijauan.

Hijauan yang berkualitas baik dan kuantitasnyacukup dapat meningkatkan produksi susuinduk. Produksi hijauan pada musim kemarausangat sedikit sehingga hal ini akan berdampak terhadap pemenuhan kebutuhan pakan ternak.Induk menyusui yang kekurangan pakan akan menghasilkan produksi susu yang sedikit, halini menyebabkan pertumbuhan cempe rendahdan ini terlihat dari rataan bobot badan pada akhir musim kemarau yang disajikan pada Tabel 5.

Pada musim kemarau dengan temperature suhu yang tinggi apabila dihadapkan padacekaman panas, prioritas tingkah laku kambingakan berubah dari kegiatan merumput dan mengkonsumsi pakan, hal ini dilakukan untuk menghindari kondisi yang tidak menyenangkan. Konsekuensi yang cepat untuk menghindari hal ini adalah dengan mengurangikonsumsi pakan dan energi metabolis yang tersedia. Gangguan lain terhadap keseimbangan energi berasal dari perubahan fisiologis, endokrin dan pencernaan yang selanjutnya menurunkan energi yang tersedia,dan sebagai konsekuensinya menurunkan produksi ternak (Wodzicka et al., 1993). Demikian juga pendapat dari McDowell (1972) yang menyatakan bahwa ternak yang mengalami stres panas akibat meningkatnya temperatur lingkungan, fungsi kelenjar tiroidnya akan terganggu. Hal ini akan mempengaruhi selera makan dan penampilan.Adanya perbedaan laju pbhh awal musimpenghujan dan akhir musim kemaraumenunjukkan perlu adanya antisipasi untuk menanggulangi permasalahan ini.Pakan alternatif sebagai cadangan pakan pada masamasapaceklik di perlukan agar pengaruhmusim ini tidak berdampak serius dalammenghambat laju pertumbuhan ternak. Pemberian suplemen berdampak positif terhadap pertumbuhan kambing pada musim kemarau, Dari hasil penelitian Marsetyo (2006) memperlihatkan bahwa penambahan daun lamtoro atau bungkil kelapa pada kambing betina lokal yang mendapatkan pakan dasar jerami jagung dapat meningkatkan konsumsi pakan, kecernaan pakan dan pertambahan bobot badan harian.

 

PENUTUP

Dari uraian pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa, keadaan lingkungan merupakan faktor yang penting terhadap penyebaran HMT dan produktivitas ternak disuatu daerah.Hingga sekarang produksi HMT di daerah tropis 2160 kg BK/ha pada musim hujan dan 545 kgBK/ha musim kemarau.Sementara kulitas dari pada HMT di daerah tropis berkisar antara 5- 14% PK pada musim hujan dan menurun menjadi 3% PK di musim kemarau.Pada temperatur rendah (minimum) pertumbuhan tanaman menjadi lambat bahkan terhenti, karena kegiatan enzimatis dikendalikan oleh temperatur. Temperatur tanah yang rendah akan berakibat absorpsi air dan unsur hara terganggu, karena transpirasi meningkat. Apabila kekurangan air ini terus menerus tanaman akan rusak. Hubungan temperatur tanah yang rendah dengan dehidrasi dalam jaringan tanaman adalah apabila temperatur tanaman rendah viskositas air naik dalam membran sel, sehingga aktivitas fisiologis sel-sel akar menurun sehingga menekan produksi dan kualitas dari pada HMT. Produktivitas ternak adalah jumlah kebuntingan, kelahiran, kematian, panen pedet (calf crop) atau cempe, perbandingan anak jantan dan betina, jarak beranak, bobot sapih, bobot setahun (yearling), bobot potong dan pertambahan bobot badan sangant dipengaruhi oleh adanya interaksi antara lingkungan dan nutrisi. Dengan demikian dapat disarankan bahwa untuk dapat meningkatkan produkstivitas dari pengaruh lingkungan adalah dengna pengaturan penggembalaan, naungan, introduksi hijauan unggul.

 

DAFTAR PUSTAKA

Ance Gunarsih Kartasapoetra. 2004. Klimatologi: Pengaruh Iklim terhadap Tanah dan Tanaman. Bumi Aksara. Jakarta.

Aoetpah.2002. Fluktuasi Ketersediaan Dan Kulitas Gizi Padang Rumput Alam Di Pulau Timor. Journal Informasi Penelitian Lahan Kering No 11/Juli, Pusat Penelitian Lahan Kering, Lembaga Penelitian Universitas Nusa Cendana Kupang, Hal 32-37.

Brigida.2009. Analisis Komposisi Biotani Dan Komposisi Kimia Padang Penggembalaan Alam Di Peterngahan Dan Akhir Musim Hujan Pada Dataran Tinggi Dan Dataran Rendah Di Kabupaten Lautem. Timor Leste

Bamualim. 1988. Peranan peternakan dalam usaha tani di nusa tenggara. Jurnal penelitian dan pengmbanan pertanian.VII(3): 69-74.

Damry. 2009. Produksi dan Kandungan Nutrient Hijauan Padang Penggembalaan Alam Di Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso. J. Agroland 16(4): 196-300.

Guslim. 2007. Agroklimatologi. USU Press, Medan.

Hawker, J.S., and Jenner, D.F. 1993. High temperature affects the activity of enzymes in committed pathways of starch synthesis in developing wheat endosperm. Aust. J. Plant Physiol. 20:197-209.

Iannucci (2007) Effects of temperature and photoperiod on flowering time of forage legumes in a Mediterranean environment. Field Crops Research 106 (2008) 156–162.

Jelantik, IG. N. 2001.Improving Bali cattle (Bibos bantengWagner)Production ThroughProtein Supplementation. Ph.D Thesis.Dept. Anim. Sci.And Anim. Health.The Royal Veterinary and Agricultural University, Denmark.

Jelantik, I.G.N., P.Kune, T.T.Nikolaus, dan D.Taolin. 2003. Strategi Suplementasi dan Pemeliharaan Dalam Kerangka Menekan Angka Kematian dan Meningkatkan Produksi Pedet Sapi Timor Yang Digembalakan Pada Padang Pengembalaan Alam di Propinsi Nusa Tenggara Timur. Laporan Penelitian Hibah Bersaing

Mulik. 2011. Sistem Produksi Sapi Gembala Berkelanjutan Integrasi Iklim, Tanah, Hijauan, Ternak. Cetakan 1. Undana Press. Kupang

Nasution.S, F.Mahmilia dan M. Doloksaribu., 2010.Pengaruh musim terhadap pertumbuhan Kambing kacang prasapih di stasiun percobaan Loka penelitian kambing potong sei putih.Loka Penelitian Kambing Potong. Sumatera Utara

Kobata, T. and Uemuki N. 2004. High tempetures during the grain-filling period do not reduce the potential grain dry matter increase of rice. Agron. J. 96:406-414.

Las, I. 2007.Strategi dan Inovasi Antisipasi Perubahan Iklim (bagian 1). Kepala Balai Besar Sumberdaya Lahan Pertanian. http://www.litbang.deptan. go.id/artikel/one/186/pdf/Strategi%20dan%20Inovasi%20Antisipasi%20Perubahan%20Iklim%20(bagian%201).pdf. (Diakses 15 Maret 2013).

Pane, I. 1989.Produktivitas dan breeding sapi Bali.Proc. Seminar Nasional Sapi Bali 2–3 September.hlm: 50.

Reksohadiprodjo, S. 1994. Produksi Tanaman Hijauan Makanan Ternak Tropik. Edisi Ketiga. BPFE. Gajah Mada, Yogyakarta.

Riwu Kaho. 1986. Kualitas Padang Rumput Alam Dibeberapa Tempat Di Timor Barat. Skripsisarjana Peternakan. Fapet Undana. Kupang

Riwu Kaho, L.M. 1993. Studi Tentang Rotasi Merumput Pada Biom Sabana Timor Barat.Telah pada Sabana Binel TTS.Thesis Pascasarjana (S2) IPB, Bogor.

Sukristiyonubowo, I.G dkk 2000. Pengaruh system hutan pastur terhadap daya dukung dan sifat tanah padang penggembalaan. Jurnal Tanah dan Iklim. N0 18

Susetyo et al., (1980). PadangPenggembalaan :Suatu Pengantar Pada Kuliah Pengelolaan Pasture dan Padang Rumput. Departemen Ilmu Makanan Ternak, Institud Pertanian Bogor, Bogor.

Sumarsono. 2007. Bahan Kuliah Ilmu Makanan Ternak. Program Studi Nutrisi Dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan. Universitas Diponegoro. Semarang

Syarifuddin, M. 2011. Dampak Perubahan Iklim Bagi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman.Program Studi Manajemen Pertanian lahan Kering Politeknik Pertanian Negeri Kupang.Kupang. http://programstudimplk.blogspot.com/2011/05/dampak-perubahan-iklim-bagi-pertumbuhan.html. (Diakses 16 Maret 2013).

Tang, R. S., Zheng, J. C. and Zhang, D. D. 2006.The effects of high temperatures on pollen vitality and seed setting of different rice varieties. Jiangsu J. Agric. Sci. 22:369-373.

Weerakoon, W. M. W., Maruyama, A. and Ohba, K. 2008. Impact of humidity on temperature induced grain sterility in rice (Oryza sativa L). J. Agron. and Crop Sci. 194:135-140.

Zakaria, S., Matsuda, T. and Nitta, Y. 2002. Effect of high temperature at ripening stage on the reserve accumulation in seed in some rice cultivars. Plant Prod. Science. 4:160-168.

Zakaria, S. 2005. Effect of temperature in ripening stage on the appearance of nucellar epidermis and reserves accumulation in endosperm of rice (Oryzasativa L.). Jurnal Agrista.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply