Mencari Alterntif Meningkatkan Populasi dan Produktivitas Ternak Sapi di NTT

Setiap kebijakan pemerintah mengenai ternak sapi di NTT selalu memancing tanggapan beragam dari berbagai pihak. Hampir semua lapisan masyarakat dari peternak hingga para pakar dari perguruan tinggi juga ikut berbicara dari sekedar mengkritik hingga menyumbangkan pikiran-pikiran cerdas bagaimana memecahkan permasalahan disekitar ternak sapi. Yang menarik adalah fenomena tersebut nampaknya hanya berlaku bagi ternak sapi dan tidak untuk ternak lainnya. Lalu orang mungkin akan bertanya apa sebenarnya keistimewaan ternak ini di bandingkan dengan ternak lainnya ? Ternak pada umumnya mempunyai fungsi ekonomi, sosial budaya hingga sebagai tabungan hidup yang secara efektif mampu menanggulangi kebutuhan-kebutuhan yang bersifat urgen. Salah satu yang istimewa dari ternak sapi adalah kemudahannya dalam pemasaran. Peternak dapat menjual berapapun jumlahnya, dimanapun dan kapanpun akan menjualnya. Seorang peternak yang membutuhkan uang secara mendadak bahkan dapat menghubungi pembeli dan melakukan transaksi pada tengah malam! Kenyataan ini tentu saja sulit ditemukan pada ternak lainnya atau bahkan komoditi pertanian lainnya. Rasanya sulit menjual babi misalnya pada tengah malam atau beras yang notabene makanan pokok orang Indonesia juga tidak gampang menjualnya terutama jika dalam jumlah banyak.

Tanpa bermaksud ingin mengulas lebih dalam keistimewaan ternak sapi dibandingkan dengan ternak lainnya. Penulis ingin menggiring pembaca bahwa betapa keistimewaan ini dengan mudah dapat hilang begitu saja dalam era pasar bebas pada masa-masa mendatang. Kemudahan pemasaran ternak sapi dipicu oleh ketimpangan yang sangat besar antara kebutuhan (demand) dan ketersediaan (supply). Kebutuhan daging nasional luar biasa besarnya dan cenderung meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk dan perubahan pola hidup (life style). Konsumsi daging nasional hingga kini hanya 4,45 kg/kapita/tahun, dan  merupakan terendah di Asia. Kendati demikian konsumsi daging di Indonesia sudah  mencapai 890.000 ton setiap tahunnya, suatu besaran kebutuhan yang sangat besar. Besaran kebutuhan ini terus meningkat dari tahun ke tahun sejalan dengan peningkatan jumlah penduduk. Bisa dibayangkan, jika jumlah penduduk meningkat 1% saja per tahunnya, maka  kebutuhan daging akan meningkat lebih  8.900 ton setiap tahunnya.

Kelangkaan suplai relatif terhadap kebutuhan menyebabkan harga daging di Indonesia menjadi relatif tinggi dan mungkin akan terus meningkat. Peningkatan harga ini mungkin akan secara langsung berdampak positif daerah-daerah penghasil ternak sapi seperti NTT. Namun disisi lainnya, daging makin tak terjangkau oleh kebanyakan konsumen. Kenyataan ini tentu tidak diinginkan oleh kebanyakan diantara kita karena selain kemampuannya dalam memuaskan lidah manusia daging sapi juga mengandung zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan oleh tubuh kita. Berdasarkan alasan tersebutlah pemerintah akhirnya membuka kran import daging maupun sapi hidup (bakalan) dari luar negeri. Sejalan dengan semakin melebarnya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan ternak sapi, import daging terus meningkat dari 800 ton tahun 1975 menjadi 15.900 ton tahun 1997. Sementara itu untuk memacu industri penggemukan nasional pemerintah mengimpor sapi bakalan hingga lebih 400.000 pada tahun 2002 lalu.

Kebijakan pemerintah untuk membuka kran impor tersebut sejak awalnya tentu saja ‘kurang’ disetujui oleh peternak lokal karena jelas-jelas akan mengurangi posisi tawar produknya. Ratusan ribu peternak sapi di Indonesia kontan ketar-ketir karena merasa usahanya akan terancam atau bisa-bisa akan gulung tikar. Orang awam mungkin akan bertanya kenapa peternak kita gelisah dan takut akan sapi impor? Peternak kita tentu saja sangat takut karena ‘keuntungan’ akan segera menurun drastis karena harga akan langsung turun. Turunnya harga tersebut jelas merupakan konsekuensi imbangan antara kebutuhan dan suplai yang berbalik seratus delapan puluh derajat. Tadinya kebutuhan jauh melebihi suplai sehingga harga bisa dikontrol oleh produsen, sekarang suplai jauh melebihi kebutuhan. Apa akibatnya? Ternak kita menjadi sulit dijual dan konsekuensinya terjadi kompetisi harga. Siapa yang berani menjual lebih murah dialah yang akan mampu menjual lebih banyak. Lalu bisakah kita menjual sapi lebih murah dari sapi impor? Untuk

Namun pertanyaannya adalah bisakah kita (peternak sapi) mendesak kepada pemerintah dalam era globalisasi untuk tidak atau membatasi impor sapi kendati kita bisa menghasilkan sapi sendiri? Jawabannya ‘mungkin’ tidak. Namun demikian dalam era globalisasi nanti imbangan antara demand dan suplai tidaklah lagi demikian. Suka atau tidak suka kita harus bersaing dengan negara luar yang mungkin suatu saat nanti dapat secara bebas memasarkan harus produk ternak sapinya di Indonesia termasuk di Kupang. Baru menghadapi negara seperti Australia saja kita sudah keteter akibat anjloknya harga sapi di dalam negeri. Peternakpun sekarang ini lesu dan dengan demikian gairah beternakpun menurun. Belum lagi kita menghadapi saingan lainnya yang mungkin lebih efisien dalam memproduksi ternak sapi. Negara-negara seperti Amerika Serikat, Canada atau pendatang baru seperti Argentina, Brazil bahkan negara-negara dari Afrika tengah seperti boswana dan burundi yang mampu menjual daging dengan sangat murah. Negara-negara eropa yang sudah maju saja peternakannya sulit membendung mereka apalagi kita.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply