POTENSI BREEDING dan SELEKSI  SAPI LOKAL TERNAK GEMBALA DI PADANG PENGGEMBALAAN NTT

MAKALAH 

PRODUKSI TERNAK GEMBALA

(Mardianus E. Ili, S.Pt.M.Si)

 PENDAHULUAN

Latar belakang

Ukuran tubuh sapi Bali tergolong kecil yaitu sekitar 2/3 ukuran sapi Brahman dan mempunyai kombinasi ciri fisik dan tingkah laku bangsa sapi lain. Mereka mempunyai jumlah kromosom yang sama dengan bangsa sapi lain (n=60), meskipun F1 jantan hasil persilangan dengan sapi-sapi bangsa Bos indicus dilaporakan mandul (Kirby, 1979). Dari dinamika populasi sapi Bali di kawasan Timur Indonesia mengindikasikan bahwa kebanyakan anak betina yang dliahirkan dan disapih diperlukan untuk menggantikan induknya, tetapi 40% dari betina dijual setiap tahunnya. Tingkat penjualan tersebut tidak sustainabel dan dapat menyebabkan penurunan populasi ternak. Dengan demikiian diperlukan manajemen strategis yang mampu meningkatkan proporsi induk beranak dari 65% menjadi 80% dan menurunkan angka kematian pedet dari 15% menjadi 10%. Hal ini akan menyebabkan, Net turnoff meningkat 1/3nya, dengan turnoff tahunan sekitar 50% betina dimungkinkan, Peternak akan menjual setiap tahunnya sekitar 25% dari betina sapihan.

Industri peternakan sapi di dunia mempunyai sejarah panjang dalam upaya meningkatkan efesiensi produksi dengan mengubah genetiknya, tetapi keberhasilannya sangat rendah. McCool (1992) menyatakan bahwa mengganti sapi lokal dengan bangsa eksotis akan menyebabkan beberapa permasalahan  (a) Distokia karena heterosis akan meningkatkan berat lahir pedet (b) Toleransi yang lebih rendah terhadap penyakit, paraasit, kualitas nutrisi yang jelek dan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat dan (c) Meningkatkan upaya (kerja) untuk memberikan makanan utnuk setiap ternak karena meningkatnya pertumbuhan dan ukuran dewasa yang lebih besar.

Genotipe yang biasa digunakan dalam crossbreeding atau menggantikan sapi Bali pada umumnya sekitar 50% lebih besar dibandingkan dengan sapi Bali. Jika penyediaan pakan tidak ditingkatkan untuk memenuhi kebutuhan yang meningkat, maka sebagian besar pakan tersebut akan digunakan untuk maintenance dan sangat sedikit digunakan untuk produksi dengan hasil akhir produktivitas yang rendah.

Sapi Bali nampaknya cocok untuk kebutuhan peternak di NTT. Terdapat kesempatan yang besar dalam meningkatkan mutu genetik melalui seleksi. Akan tetapi untuk memperoleh perbaikan genetik kita harus mengidentifikasi dan menggunakan ternak terseleksi dan mempunyai kemampuan untuk menyebarluaskan dan menggunakan ternak terseleksi tersebut oleh peternak kecil. Dari uraian diatas maka dalam makalah ini penulis membahas potensi breeding  sapi lokal ternak gembala di padang penggembalaan nusa tenggara timur

TUJUAN

Adapun tujuan yang ingin diketahui dalam penulisan makalah ini adalah untuk menggambarkan potensi breeding sapi local ternak gembala dipadang penggembalaan di Nusa Tenggara Timur (NTT) melalui tahapan seleksi.

 

PEMBAHASAN

 

2.1  Potensi ternak sapi local (sapi bali) di NTT

Produktivitas adalah hasil yang diperoleh dari seekor ternak pada ukuran waktu tertentu (Pane, 1990) menyatakan bahwa produktivitas sapi potong biasanya dinyatakan sebagai fungsi dari tingkat reproduksi dan pertumbuhan. Wodzicka-Tomaszewska et al. (1988) menyatakan bahwa aspek produksi seekor ternak tidak dapat dipisahkan dari reproduksi ternak yang bersangkutan, dapat dikatakan bahwa tanpa berlangsungnya reproduksi tidak akan terjadi produksi. Dijelaskan pula bahwa tingkat dan efesiensi produksi ternak dibatasi oleh tingkat dan efesiensi reproduksinya. Pane,. (1991) menyatakan bahwa produktivitas nyata ternak merupakan hasil pengaruh genetik dan lingkungan terhadap komponen-komponen produktivitas. Selanjutnya Kasip, (1990) menyatakan bahwa performan seekor ternak merupakan hasil dari pengaruh faktor keturunan dan pengaruh komulatif dari faktor lingkungan yang dialami oleh ternak bersangkutan sejak terjadinya pembuahan hingga saat ternak diukur dan diobservasi. Faktor genetik ternak menentukan kemampuan yang dimiliki oleh seekor ternak sedang faktor lingkungan memberi kesempatan kepada ternak untuk menampilkan kemampuannya. Ditegaskan pula bahwa seekor ternak tidak akan menunjukkan penampilan yang baik apabila tidak didukung oleh lingkungan yang baik dimana ternak hidup atau dipelihara, sebaliknya lingkungan yang baik tidak menjamin panampilan apabila ternak tidak memiliki mutu genetik yang baik.

Pane,. (1991) menyatakan bahwa produktivitas ternak potong di Indonesia masih tergolong rendah dibanding dengan produktivitas dari ternak sapi di negara-negara yang telah maju dalam bidang peternakannya, namun demikian Keman (1986) menyatakan bahwa produktivitas sapi daging dapat ditingkatkan baik melalui modofikasi lingkungan atau mengubah mutu genetiknya dan dalam praktek adalah kombinasi antara kedua alternatif diatas. Jelantik (2002) menyatakan bahwa yang termasuk dalam komponen produktivitas sapi potong adalah jumlah kebuntingan, kelahiran, kematian, panen pedet (calf crop), perbandingan anak jantan dan betina, jarak beranak, bobot sapih, bobot setahun (yearling), bobot potong dan pertambahan bobot badan. Tabel 2 menunjukkan rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi potong di Indonesia.

Tabel 2. Rataan persentase kelahiran, kematian dan calf crop beberapa sapi bali di Indonesia

Bangsa Kelahiran Kematian Calf crop
Brahman

Brahman cross

Ongole

Lokal cross

Bali

50,71

47,76

51,04

62,47

52,15

10,35

5,58

4,13

1,62

2,64

48,80

45,87

48,53

62,02

51,40

Sumber :

Berdasarkan Tabel 2 dapat dilihat bahwa sapi Bali memperlihatkan persentase kelahiran 52,15% lebih tinggi di banding dengan sapi Brahman 50,71%, Brahman cross 47,76% dan sapi Ongole 51,04% kecuali Lokal cross (Lx) 62,47%, demikian pula calf crop sapi Bali 51,40% lebih tinggi dibanding sapi Brahman 48,80%, Brahman cross 45,87% dan sapi Ongole 48,53% kecuali Lokal cross sebesar 62,02 % serta persentase kematian yang rendah. Hal tersebut dapat memberi gambaran bahwa produktivitas sapi Bali sebagai sapi asli Indonesia masih tinggi, namun jika dibandingkan dengan sapi asal Australia masih tergolong rendah yakni calf crop-nya dapat mencapai 85 % (Trikesowo et al., 1993).

Vercoe dan Frisch (1980) menyatakan bahwa sifat produksi dan reproduksi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain bangsa sapi, keadaan tanah, kondisi padang rumput, penyakit dan manajemen. Oleh karena itu perbaikan mutu sapi potong haruslah ditekankan pada peningkatan sifat produksi dan reproduksi yang ditunjang oleh pengelolaan yang baik dari segi zooteknis dan bioekonomis. Adapun penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Penampilan produktivitas sapi Bali di beberapa Provinsi Bali

Keterangan Bali P3Bali
Berat Lahir (Kg)

Berat Sapih (Kg)

Berat 1 th, Jantan (kg)

Betina (Kg)

Berat 2 th, Jantan (Kg)

Betina (Kg)

Berat Dewasa, Jantan (kg)

Betina (Kg)

Ukuran Tubuh Dewasa :

Jantan :

Lingkar Dada (cm)

Tinggu gumba (cm)

Panjang badan (cm)

Betina :

Lingkar Dada (cm)

Tinggu gumba (cm)

Panjang badan (cm)

Persentase beranak/th (%)

16

86

135

125

235

200

395

264

 

 

185,5

125,4

142,3

 

160,8

113,6

118,5

69

18

94

145

135

260

225

494

300

 

 

198,8

130,1

146,2

 

174,2

114,4

120,0

86

Sumern : Anonymous (2013)

2.2  Penerapan Seleksi

Dalam program pembibitan tidak telepas  dari proses seleksi. Berkaitan dengan potensi daerah dengan produk andalan sapi bali yang memiliki berbagai keunggulan seperti .

  1. Keunggulan utama sapi Bali adalah terletak pada kesuburannya yang sangat tinggi. Sapi ini mempunyai potensi angka kelahiran mencapai 85% (Banks, 1986) dibandingkan dengan sapi Ongole yang hanya 30% (Bamualim dan Wirdahayati, 1990). Hal ini didukung oleh:
  • Interval berahi yang panjang (18-24 jam) dan intensitas yang cukup tinggi (Jelantik, 1990).
  • Pejantan sapi Bali yang agresif dan dengan produksi serta kualitas sperma cukup tinggi (Burhanuddin dkk., 1992).
  • Produksi susu yang sangat rendah antara 0,79 kg (Wirdahayati dan Bamualim, 1990) sampai 1,4 kg (Jelantik dkk., 1998; Jelantik, 2001a) terutama pada kondisi stress nutrisi. Cenderung mengorbankan anaknya demi mempertahankan liabilitas reproduksinya.
  1. Persentase karkas yang tinggi (Malelak et al.,1998) dengan kualitas daging standard muscular grade (SMG) no. 3 sehingga dagingnya menjadi lebih mahal (Natasasmita, 2001).
  2. Tahan terhadap panas (Hattu, 1993)
  3. Tahan terhadap caplak dan parasit eksternal lainnya
  4. Laju pertumbuhan yang rendah karena:
  • Lambat dewasa (Fattah, 1998; Jelantik, 2001c)
  • Ukuran dewasa tubuh yang rendah
  • Laju metabolisme yang lambat sehingga tingkat konsumsinya rendah dan laju pertumbuhan rendah.
  1. Adaftif (mampu bertahan hidup) terhadap pakan berkualitas rendah karena:
  • Kandungan urea darah yang tinggi
  • Laju urea recycling yang tinggi (Jelantik, 2001b)

Sehingga dalam penerapan breeding keunggulan utama dari hasil seleksi  yang menjadi tujuan adalah menghasilkan sapi bakalan berkualitas dari lahan ‘tradisional’. Keunggulan dari produk (sapi bakalan) yang akan dihasilkan mempunyai karakteristik unggul karena:

  1. Mempunyai berat lahir yang tinggi, mencapai rata-rata 16 kg (Toelihere dkk., 1991); berat lahir yang tinggi mempunyai korelasi dengan tingginya laju pertumbuhan, daya tahan hidup (survival rate), berat sapihan yang tinggi dan berat sapi bakalan yang tinggi.
  2. Sapi bakalan yang dihasilkan sebagian merupakan bakalan Bali hasil perkawinan dengan pejantan Bali terpilih.
  3. Sapi bakalan yang dihasilkan tidak pernah mengalami stress pakan selama musim kemarau dan dengan demikian selama hidupnya sehingga akan mempunyai tampilan prima pada saat penggemukan nanti yaitu tetap mempunyai laju pertumbuhan tinggi dan respons terhadap penggemukan (pemberian pakan berkualitas) yang tinggi.
  4. Sapi bakalan yang dihasilkan dan telah digemukkan akan mempunyai kualitas daging yang tinggi dengan persentase daging (protein) yang tinggi karena ternak mencapai bobot potong pada umur yang jauh lebih muda dari sapi Bali saat ini.
  5. Sapi bakalan yang diproduksi memiliki berat badan yang tinggi (di atas 150 kg pada umur 1 tahun) sehingga dapat segera digemukkan dan dalam waktu yang singkat sudah dapat dijual/ di antar pulaukan.

Ternak dipelihara dalam sistem pemeliharaan ekstensif yang berarti sistem yang tidak berbeda dan sudah dikenal oleh masyarakat. Namun teknik modern akan diterapkan dengan mempertimbangkan:

  1. Memaksimalkan pemanfaatan lahan yang pada umumnya milik kolektif (suku) sehingga pengelolaannya juga harus menggunakan pendekatan kelompok. Pengelolaan pribadi tidak dimungkinkan.
  2. Menjamin efesiensi yang tinggi. Pada umumnya dipercaya produksi sapi bakalan akan jauh lebih efesien dan ekonomis jika dihasilkan dari suatu sistem peternakan ekstensif (forage base) dibandingkan dihasilkan dari pemeliharaan secara intensif.
  3. Pengelolaan secara ekstensif juga memerlukan investasi modal/kapital, jumlah tenaga kerja dan keterampilan yang lebih rendah untuk setiap unit produksi sehingga lebih cocok untuk peternak di NTT pada umumnya.

2.3  Seleksi dan Breeding

  1. Tujuan Breeding

Tujuan pokok dari program perbaikan kualitas genetik ternak sapi bali adalah mendapatkan kelompok ternak berproduktivitas tinggi guna peningkatan pendapatan peternak dan pendapatan asli daerah.

Ternak sapi akan berproduktivitas tinggi bila”

  1. Memiliki angka pertambahan bobot badan harian yang tinggi agar cepat  memberikan keturunan.
  2. Memberikan keturunan setiap tahun dan mampu menyapih anak dalam jumlah banyak dengan berat sapih tinggi  semasa hidupnya.
  3. Memiliki bobot badan dan karkas yang tinggi pada usia relatif mudah.

 

  1. Sasaran dan Kriteria Seleksi

Sasaran dan criteria seleksi yang dapat diterapkan pada program perbaikan kualitas sapi Tabel 1:

Tabel 1 : Sasaran dan Kriteria Seleksi

NO SASARAN  SELEKSI KRITERIA SELEKSI
1 Kesuburan pejantan Lingkar skrotum
2 Kesuburan betina:
a.  Umur pertama beranak Berat sapih dan umur setahun
b. Birahi kembali 90 hari post partus Waktu beranak (calving date)
c. Sifat keindukan (maternal ability) Berat lahir dan berat sapih anak, pertambahan bobot badan prasapih
d.  Kemudahan melahirkan Lebar pinggul
3 Pertumbuhan Berat setahun, pertambahan bobot badan pasca sapih
4 Efisiensi pakan Berat setahun,  pertambahan bobot badan pasca sapih
5 Berat pada umur mendekati 2 tahun (18 – 24 bulan) Berat setahun
6 Berat karkas Berat setahun,  berat  umur 2 tahun

 

2.4  Pengelolaan Seleksi

Melalui seleksi yang ketat terhadap ternak yang dijadikan bibit maka  kelompok ternak yang akan diseleksi merupakan sebuah gen pool  yang selanjutnya  gen-gen unggul  dikawinkan untuk menhasilkan indifidu baru yang memiliki kualitas yang tinggi. Ternak-ternak  calon tetua (siap kawin)  harus memiliki criteria khusus misalnya  tidak menyimpang dari warna standar sapi Bali murni, sehat,  berkondisi baik dan tinggi pundak di atas rerata nasional.  Tinggi pundak menjadi persyaratan utama karena ukuran  tersebut akan relative stabil walaupun ternak dihadapkan dengan lingkungan yang kurang baik dibandingkan dengan ukuran tubuh lain (lingkar dada) serta bobot badan ternak.

Program seleksi mencakup  Uji performans bagi ternak muda dan Uji keturunan bagi calon pejantan yang merupakan kategori terbaik hasil Uji Performans. Pejantan terbaik  dapat dijadikan pejantan pemacek dan induk unggul untuk memperbaiki kualitas ternak. Sebagai contoh dalam keadaan stabil  jumlah induk dan pejantan di  suatu pusat perbibitan  masing-masing  500 dan  20 ekor  (1 : 25).  Melalui pengelolaan yang intensif (tatalaksana reproduksi, seleksi,  pencegahan dan pengobatan penyakit, tata-laksana penggembalaan)  diperoleh parameter berikut:

1. Jumlah induk : 500
2. Jumlah pejantan : 20   (1 : 25)
3 Persentase kelahiran : 90%
4 Persentase kematian anak : 5%
5 Calf  crop : 85.5%
6. Umur beranak I betina

(pakai 5 tahun, replacement rate 20%)

: 2.75 tahun
7 Umur beranak I jantan

(pakai 2 tahun, replacement rate 50%)

: 3 tahun
8 Kematian ternak muda : 2%
9 Kematian ternak dewasa 1%

Sumber : Modifikasi Jelantik (2007)

Berdasarkan kriteria tersebut di atas maka setiap tahun akan dipeoleh:

1. Jumlah induk : 500
2. Jumlah pejantan : 20   (1 : 25)
3 Kelahiran : 450
5 Calf crop (1 tahun) : 448
6. Jumlah anak jantan : 224
7 Jumlah anak betina : 224

Program Seleksi (Uji performans)

Dalam seleksi ini semua ternak muda akan mengikuti program uji performans mendapatkan perlakuan yang sama.  Pemeliharaan ternak mengandalkan potensi padang gembala yang tertata dalam paddock-paddock  penggembalaa seang waktu satu tahun untuk mengamati hasil produksi.Berdasarkan kriteria uji performans maka dapat menghasilkan kategori dan pemanfaatan lanjutan sebagai berikut dengan proyeksi populasi pada Tabel 3 :

Jantan:

1. Jumlah calon pejantan (umur mendekati 2 tahun) : 224
2. Kematian  2% : 4
3 Sisa ternak : 220
5 Replacement pejantan di Breeding Center

(50% penyingkiran dan 1 % kematian)

22
6 Program penggemukan : 188

 

Betina

1. Jumlah  betina : 224
2. Kematian  2% :    4
3 Sisa ternak : 220
5 Replacement induk  di Breeding Center

(20% penyingkiran dan 1 % kematian)

 22
6 Program penggemukan : 66

 

Menurut Jelantik (2007) Kemajuan genetik akan sangat bergantung pada simpangan baku fenotip (SB)  suatu karakter dalam populasi, intensitas seleksi bagi karakter bersangkutan dan angka pewarisan (h2) karakter. Berdasarkan intensitas seleksi seperti di atas maka kemajuan genetik (misalnya untuk karakter tinggi pundak)  dapat diprediksi sebagai berikut:

Komponen Jantan Betina
Proporsi seleksi :  5% :  50%
Intensitas seleksi (i) :  2.063 :  0.80
Heritabilitas  (h2) : 0.4 :  0.4
Rata-rata selang generasi :  3.5 tahun :  5 tahun
Kemajuan genetik per generasi = (i) x ((h2) x SB  

0.83 unit SB

 

0.32 unit SB

                              Kemajuan genetik populasi   =  0.57 unit SB
                              Kemajuan genetik per tahun =  0.13 unit SB

Menurut Jelantik (2006), Apabila pada sejak awal ternak bibit jantan maupun betina yang diseleksi memiliki tinggi pundak minimal masing-masing 110 cm  (rerata 113 cm) dan 105 cm  (rerata 107 cm)   dan simpangan baku untuk jantan dan betina masing-masing 4.12  dan  4.62  cm  (rerata 4.37 cm)  maka ,

     Kemajuan genetik  jantan   =  3.9 cm atau  0. 8 cm  per tahun
     Kemajuan genetik betina    =  1.48 cm atau  0. 34 cm pr tahun
     Setelah satu selang generasi (4.25 tahun).

Jika dalam populasi dimana rerata tinggi gumba (ternak muda) adalah 92.5 cm (misalnya Kabupaten Kupang, Fapet Undana, 2000)  maka dalam satu generasi atau sekitar 4 tahun tinggi gumba akan menjadi  92.5 cm + 0.13 x 4.37 = 98.18 . Ilustrasi ini menunjukkan bahwa betapa pentingya data dasar (rerata dan simpangan baku) dari setiap karakter dalam sebuah populasi.

6. Produksi dan Pemasaran

Dengan berbagai teknologi yang diterapkan dalam rangka optimalisasi produksi, kualitas dan pemanfaatan pakan, dan dengan strategi dan efesiensi pemeliharaan maka produktivitas ternak dapat diharapkan tinggi dengan ekspresi keunggulan genetik tinggi dari hasil seleksi  maka proyeksi perbaikan berbagai parameter produksi dan genetik yang diharapkan akan diperoleh.

Tabel 2 . Proyeksi Perbaikan Berbagai Parameter Produksi  dari hasil seleksi

No. Parameter Kondisi Saat Ini Sekarang 
1. Angka kelahiran 71 % 90 %
2. Musim kelahiran Awal musim kemarau Akhir musim hujan
2. Angka kematian pedet 21 % 5 %
3. Hasil pedet/tahun (Calving yield) 56 % 86 %
4. Jarak beranak (calving interval) 12-18 bulan (15,6 bulan) 12-14 bulan
4. Berat lahir 12 kg 16 kg
5. Pertambahan berat badan harian pedet 0,112 kg 0,4 – 0,6 kg
6. Berat sapih 6 bulan 32 kg 106 kg
7. Berat pada umur 1 tahun 50 – 70 kg 170 – 198 kg
8. Umur beranak pertama 3-4 tahun 2,5 – 3 tahun
9. Angka kematian induk 7 % 2 %
10. Tinggi pundak :

Muda Jantan

Muda betina

Dewasa Jantan

Dewasa Betina

 

103,3 cm

99,7

106,3

104,8

 

111,3 cm

103,1 cm

144,3 cm

107,4 cm

Dengan pencapaian perbaikan berbagai parameter tersebut dengan seleksi yang ketat maka dapat diproyeksikan produksi dari berbagai jenis produk yang dihasilkan seperti :

  1. Bibit jantan super
  2. Bibit betina bakalan super
  3. Bakalan betina penggemukan
  4. Bakalan Jantan penggemukan
  5. Induk dan pejantan afkir untuk digemukkan
  6. Pupuk organik padat (bokashi) dan cair

Jumlah dan kuantitas produk yang dari hasil estimasi penerapan seleksi  ditampilkan pada Tabel  3.

 

Tabel. 3 Proyeksi produksi ternak dari ternak  dengan memasukan berbagai kriteria seleksi

Tahun 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
Populasi :  
Induk 500 490 480 489 493 493 496 499 501 504
Jantan 20 20 19 19 20 20 20 20 20 21
Anak betina 225 221 216 220 222 222 223 225 226 227
Anak Jantan 225 221 216 220 222 222 223 225 226 227
Dara 1-2 tahun 0 134 131 129 131 132 132 133 134 134
Jantan 1-2 tahun 0 11 11 11 11 11 11 11 11 11
Dara 2-3 tahun 0 0 131 129 126 129 130 130 130 131
Jantan 2-3 tahun 0 0 11 11 10 11 11 11 11 11
Jml ternak (ekor) 970 1,096 1,216 1,227 1,235 1,239 1,246 1,253 1,259 1,265
Jml ternak (ST) 633 692 785 793 797 800 804 809 813 817
Produksi :
Bakalan Jantan bibit 22 22 21 22 22 22 22 22 22
Bakalan jantan gemukan 187 184 180 183 185 185 186 187 188
Bakalan betina bibit 22 22 21 22 22 22 22 22 22
Bakalan betina gemukan 66 65 64 65 65 65 66 66 66
Induk afkir 118 120 121 121 122 122 123
Jantan afkir 5 5 5 5 5 5 5
Total Produksi Ternak (ekor) 298 292 408 416 419 419 422 424 426

 

PENUTUP

Dari pembahasan diatas maka dapat disimplkan bahwa komoditi sapi local di Nusa Tenggara Timur memiliki potensi yang dapat dikembangkan dengan program seleksi yang terkontrol dengan demikian akan menghasilkan produk  berupa, Bibit jantan, Bibit betina bakalan, Bakalan betina penggemukan, Bakalan Jantan penggemukan.

Oleh karena itu, disarankan perlu diadakan seleksi yang ketat pada beberapa decade yang sesuai dengan standard dan target potensi yang ingin dicapai.

 

DAFTAR PUSTAKA

Bamualim, A. B., R. B. Wirdahayati and A. Saleh. 1990. Bali cattle production from Timor island. Research report, BPTP, Lili, Kupang.

Banks, B. 1986. Reproductive performance of Bali cattle in Timor. NTT-LDP Reports, Dinas Peternakan Propinsi Nusa Tenggara Timur.

Fattah, S. 1998. The productivity of Bali cattle maintained in natural grassland: a case of Oesuu, East Nusa Tenggara. PhD Thesis, Universitas Padjajaran, Bandung.

Jelantik, I G. N., T. Hvelplund, J. Madsen and M. R. Weisbjerg. 2001b. Effect of different levels and sources of rumen degradable protein on intake, nutrient kinetics and utilisation of low quality tropical grass hay by Bali cows. In: I G. N. Jelantik. Improving Bali Cattle (Bibos banteng Wagner) Production through Protein Supplementation. PhD Thesis. The Royal Veterinary and Agricultural University, Copenhage, Denmark.

Jelantik, I G. N., T. Hvelplund, J. Madsen and M. R. Weisbjerg. 2001c. Improving calf performance by supplementation in Bali cattle grazing communal pastures in West Timor, Indonesia. In: I G. N. Jelantik. Improving Bali Cattle (Bibos banteng Wagner) Production through Protein Supplementation. PhD Thesis. The Royal Veterinary and Agricultural University, Copenhagen, Denmark

Jelantik, I.G.N,. 2006. Rancangan Pengembangan Pusat Pembibitan Perdesaan di Kawasan Lantoka, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor. Laporan Penelitian Pengabdian. Fakultas Peternakan UNDANA. Kupang

Jelantik, I.G.N, 2007. Rancangan Pengembangan Pusat Pembibitan (Breeding Farm) Sapi Bali Timor Konotuef Dinas Peternakan Kabupaten Timor Tengah Utara.  Laporan Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Sapi Timor Lembaga Penelitian UNDANA.

Kasip, L. M., 1990. Pengamatan Sifat Kualitatif dan Kuantitatif pada Sapi Bali di Pulau Lombok. Laporan Penelitian, Fakultas Peternakan Unram, Mataram

Kirby, G.M.W. 1979. Bali cattle in Australia. World Review of Animal Production. 31. p: 24.

Malelak, G. E. M., I G. N. Jelantik, dan W. A. Lay. 1998. The effect of restricted feeding on the utlisation of dietary nutrients, chemical and physicalcomposition of full body og Bali bulls. Research Report. Undana.

Pane, I. 1990. Upaya meningkatkan mutu genetik sapi Bali di P3Bali. Proc. Seminar Nasional Sapi Bali 20–22 September. hlm: A42.

Pane, I. 1991. Produktivitas dan breeding sapi Bali. Proc. Seminar Nasional Sapi Bali 2–3 September. hlm: 50.

Toelihere, M. R., I. G. N. Jelantik, and P. Kune. 1991. Productive performance of Bali cattle and their crossbred with Friest Holstein. Research Report, Faculty of Anim. Sci, Univ. Nusa Cendana, Kupang.

Wirdahayati, R. B. and A. Bamualim, 1990. Cattle productivity in the province of East Nusa Tenggara, Indonesia. Resarch Report, BPTP, Lili, Kupang.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply