TEKNIK PENGUKURAN  KONSUMSI TERNAK GEMBALA

TEKNIK PENGUKURAN  KONSUMSI TERNAK GEMBALA

oleh

AFRO MAKING, S.Pt.,M.Si

 

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Konsumsi pakan adalah faktor esensial yang merupakan dasar untuk mencukupi hidup pokok dan menentukan tingkat produksi. Tingkat konsumsi ternak dipengaruhi oleh berbagai faktor kompleks yang terdiri dari hewan, pakan yang diberikan, dan lingkungan tempat hewan te rsebut dipelihara (Parakkasi, 1999). Konsumsi merupakan faktor yang penting dalam menentukan produktivitas ruminansia dan ukuran tubuh ternak sangat mempengaruhi konsumsi pakan.

Konsumsi dinyatakan mencukupi jika jumlah pakan yang dimakan ternak dapat menyediakan nutrien yang dikandungnya untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok maupun keperluan produksi ternak (Tillman et al., 1998).Konsumsi pakan dipengaruhi oleh palatibilitas, level energi, protein dan konsentrasi asam amino, komposisi hija uan, temperatur lingkungan, pertumbuhan, laktasi, dan ukuran metabolik tubuh. Secara umum konsumsi dapat meningkat dengan semakin meningkatnya berat badan, karena pada umumnya kapasitas saluran pencernaan meningkat dengan semakin meningkatnya berat badan sehingga mampu menampung pakan dalam jumlah lebih banyak.

Pengukuran konsumsi pakan, walaupun kelihatan sangat sepele dan nampaknya sangat sederhana, ternyata mempunyai dampak yang begitu besar terhadap penilaian kita pada bagaimana pakan yang diberikan dapat digunakan oleh ternak atau dengan kata lain bagaimana respons ternak terhadap makanan yang diberikan (Jarrige, 1989). Pengukuran konsumsi yang akurat akan memberikan dasar yang kuat dalam pemberian sejumlah pakan atau ransum untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ternak sesuai dengan respons tertentu yang diharapkan. Namun pada ternak digembalakan merupakan suatu persoalan yang mudah dilakukan, tetapi keakuraan dan ketepatan sangat terbatas.

Dengan peranan yang begitu besar maka tidaklah berlebihan jika pengukuran konsumsi harus diperhatikan dengan seksama, sehingga dapat menghasilkan data yang akurat.Dengan demikian dalam makalah ini di akan dibahas mengenai teknik-teknik pengukuran konsumsi ternak gembala, kelebihan dan kekurangan serta contoh pada teknik pengukuran.

  1. Tujuan

Untuk mengetahui teknik pengukuran konsumsi ternak gembala, kelebihan dan kekurangan serta contoh pada teknik pengukuran.

PEMBAHASAN

Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat.

FAKTOR-FAKTOR YANG PERLU DIPERHATIKAN DALAM PENGUKURAN KONSUMSI PAKAN

Pengukuran konsumsi pakan ternak ruminansia yang di gembalakan dan dikandangkan haruslah memperhatiakn beberapa hal termasuk level pakan yang disajikan kepada ternak, berbagai karakteristik hijauan, adanya aktivitas seleksi oleh ternak, dan lain-lain. Dengan memperhatikan aspek- aspek tersebut maka data yang diperoleh akan dapat diharapkan untuk lebih akurat dan dapat diaplikasikan sesuai dengan tujuan pengukuran konsumsi tersebut.

Level pakan Yang Diberikan

Pengukuran tingkat konsumsi pakan oleh seekor ternak dapat menggunakan beberapa level tergantung tujuan pengukuran konsumsi pakan tersebut. Melakukan pengukuran konsumsi pakan pada ternak yang diberikan sejumlah pakan yang berbeda yakni 95, 115 dan 135% secara ad libitum pada umumnya akan dapat mengevaluasi karakteristik fisik dan kimia pakan yang diberikan serta respons tingkah laku fisiologis ternak terhadap hijauan yang diberikan. Pendekatan demikian akan memberikan berbagai informasi yang sangat berharga seperti :Tingkat konsumsi bahan kering ketika ternak diberikan pakan yang memaksimumkan konsumsi dan meminimumkan sisa pakan (95% ad libitum). Hal ini akan menghasilkan data tingkat konsumsi pakan yang diberikan versus potensi pakan yang dapat dikonsumsi.Tingkat konsumsi bahan kering harian ketika konsumsi secara selektif dimaksimumkan (135% ad libitum) akan memberikan potensi konsumsi pakan yang diseleksi dari hijauan yang disediakan.

Pengukuran potensi selektivitas dengan mempehitungkan kualitas dan kuantitas pakan yang dikonsumsi (tingkat konsumsi vs level yang diberikan).

Perbandingan yang valid dalam hal tingkat konsumsi hijauan tertentu antar laboratorium.Respons ternak terhadap kecernaan dan performans yang memungkinkan estimasi nilai ekonomi pada level pemberian pakan yang mana yang dapat digunakan dilapangan yang nantinya memeberikan keuntungan ekonomis tertinggi.Mengukur tingkat konsumsi pakan dengan level pemberian pakan yang berbeda akan memberikan informasi yang secara langsung dapat diaplikasikan pada berbagai sistem produksi yang berbeda. Nilai manfaat tertinggi dari cara demikian diperoleh ketika kuantitas pakan sangat rendah atau pada situasi ketika ternak dapat menyeleksi pakan dengan kualitas yang lebih tinggi, contohnya seleksi terhadap daun. Pengukuran demikian mungkin kurang manfaatnya jika hijauan yang disajikan berkualitas tinggi dan homogen.

Walaupun disarankan untuk menggunakan level pakan yang berbeda jika kita ingin mengestimasi tingkat konsumsi hijauan tertentu, ini tidak berarti pengukuran tingkat konsumsi dengan satu level pakan tidak benar atau tidak berguna. Hanya saja kesimpulan yang diperoleh terbatas pada level yang diberikan. Hal ini perlu ditekankan disini karena juga belum sepenuhnya dimengerti pada ternak yang merumput.

Selektivitas

Ketika diberikan kesempatan untuk memilih ternak akan cenderung memilih makanannya sesuai dengan kebutuhan nutrisinya dengan seminimal mungkin energi yang harus dikeluarkannya. Ternak akan memilih dedaunan yang masih hijau dan akan menghindarkan untuk mengkonsumsi hijauan yang berkualitas rendah terutama bagian batangnya. Demikian juga ternak akan menyeleksi spesies maupun bagian tanaman yang mempunyai kualitas yang tinggi (lebih tinggi dari yang lainnya) seperti yang mempunyai protein dan tingkat kecernaan yang tinggi. Jika kita mengabaikan fenomena ini maka kita sering membuat kesalahan dalam mengambil kesimpulan. Kesalahan terbesar terjadi pada  tingkat pemberian pakan yang tinggi (135% ad libitum) dimana seleksi oleh ternak paling mungkin dilakukan. Kesalahan juga lebih mungkin terjadi pada ternak kambing dibandingkan dengan pada ternak sapi atau domba mengingat kambing lebih selektif daripada sapi atau domba (Van Soest, 1994).

Untuk menghindarkan selektivitas oleh ternak memang nampak ada baiknya untuk mengukur konsumsi masing-masing bagian tanaman baik yang disenangi (mempunyai selektivitas tinggi) maupun bagian tanaman yang kurang atau tidak disenangi (selektivitas rendah).

Untuk menurunkan tingkat seleksi dapat juga dilakukan dengan mencincang pakan yang menjadi bagian yang lebih kecil. Namun demikian perlakuan demikian mungkin akan menghasilkan data yang tidak sesuai dengan kondisi dilapangan dimana hasil penelitian tersebut akan diterapkan.

Sumber Hijauan

Pada kebanyakan penelitian konsumsi pakan, satu sumber hijauan biasanya merupakan salah satu perlakuan atau menjadi ransum basal untuk beberapa perlakuan dengan individu ternak sebagai ulangan.Idealnya, hijauan yang digunakan harus juga merupakan ulangan baik asalnya maupun waktunya atau kedua-duanya. Hal ini memang akan memerlukan penelitian yang jauh lebih besar atau mengulang penelitian pada tahun yang berbeda. Namun hasil penelitian demikian biasanya akan menghasilkan kesimpulan yang jauh lebih luas daripada hanya menggunakan satu sumber hijauan.

Pengaruh Perubahan Umur Hijauan

Proses pendewasaan tanaman adalah faktor paling utama yang menyebabkan perubahan nilai nutrisinya dan dengan demikian akan berdampak pada tingkat konsumsi tanaman tersebut. Selama proses pendewasaan tersebut, perubahan yang terjadi maliputi perubahan fisiologis dan morfologis tanaman. Perubahan fisiologis terjadi dengan diawali dengan perkembangan awal sel ketika jaringan masih belum berdeferensiasi sebelum terjadinya perubahan dinding sel sekunder.Sementara itu perubahan morfologi meliputi perubahan proporsi daun, cabang dan batang.

Idealnya, nilai nutrisi hijauan haruslah diketahui sepanjang tahun yaitu sepanjang proses pendewasaan tersebut. Dengan demikian kita akan dapat mengetahui pada periode-periode mana perubahan dalam hasil, tingkat konsumsi bahan kering, kecernaan bahan kering serta tingkat konsumsi bahan kering tercerna.

Estimasi terhadap respons ternak pada berbagai fase pertumbuhan tanaman hanya bias kita peroleh jika kita mengorbankan lama hari per ternak darimana koefesien tersebut kita peroleh. Penelitian tingkat konsumsi pakan idealnya memerlukan waktu selam 21 hari yang terdiri dari 7 hari untuk penyesuaian dan 14 hari untuk pengukuran. Dengan demikian, hijauan yang akan digunakan dalam penelitian ini perlu disimpan dalam bentuk kering atau dalam bentuk beku. Keuntungan praktis pengetahuan tentang bagaimana tingkat konsumsi berubah dengan berubahnya tingkat kedewasaan tanaman adalah pertimbangan eknomi untuk memperoleh hasil panen hijauan yang tertinggi (kg/ha) dengan nilai nutrisi yang tetap memungkinkan respons ternak yang memadai. Dengan demikian peternak akan dapat menentukan saat terbaik untuk memanen hijauannya dengan keuntungan ekonomis yang maksimum.

TEKNIK PENGUKURAN KONSUMSI PAKAN DI PADANG PENGGEMBALAAN

  1. PENGUKURAN SECARA LANGSUNG

1.1  Menimbang berat badan ternak sebelum dan sesudah merumput.

Teknik pengukuran konsumsi pakan dengan cara menimbang ternak sesudah dan sebelum digembalakan. Dalam metode ini, perbedaan antara berat ternak awal dan berat ternak setelah digembalakan menjadi data jumlah konsumsi pakan pada kurun waktu yang diberikan.

Sebagai contoh :

–          Ternak yang akan digembalakan dengan berat badan      = 250 kg.

–          Setelah pengembalaan mencapai berat badan                   = 280 kg.

–          Dengan demikian kemampuan konsumsi ternak adalah   = 30 kg.

Kelebihan:

Metode ini dapat dengan mudah dilakukan tanpa prosedur yang rumit.Sementara ternak lebih selektif dalam mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhan selama digembalakan.

Kelemahan ;

–          Metode ini dapat dilakukan dalam periode waktu penggembalaan yang pendek yakni (1-3 hari) (Mulik, 2011)

–          Keakuratan data dalam konsumsi pakan sangat kecil, dimana urin dan feses yang dikeluarkan selama penggembalaan tidak terukur.

1.2  Selisih biomasa hijauan sebelum dan sesudah digembalakan.

Dari metode ini, jumlah biomas hijauan pada padang penggembalaan dihitung dalam sampel sebelum dan sesudah ternak digembalakan. Selisih biomasa hijauan dipadang penggembalaan adalah jumlah hijauan yang dikonsumsi oleh ternak. Perhitungan konsumsi diperoleh dari perbandingan antara jumlah biomasa hijauan yang hilang dengan jumlah hari dan ternak yang digembalakan (Mulik,2011)

Sebagai contoh :

–          Jumlah biomasa yang ada di padang pengembalaan         = 2000 kg BK.

–          Sisa biomasa yang ada pada padang penggembalaan = 1500 kg BK

–          Jumlah ternak dengan status fisiologis yang sama            = 2 ekor

–          Jumlah hari yang di gembalakan                           = 5 hari

Dengan demikian estimasi konsumsi pakan per ekor ternak adalah 50 kg/ekor/hari.

Kelebihan

–          Sangat mudah dilakukan dimana dengan mengambil sampel pada beberapa titik dari daerah padang penggmbalaan. Sementara ternak lebih selektif dalam mengkonsumsi pakan sesuai kebutuhan selama digembalakan.

Kelemahan

–          Waktu penggembalaan dibatasi dimana tidak lebih dari 1 minggu.

–          Kesalahan dalam pengambilan sampling berpengaruh terhadap jumlah perkiraan konsumsi, dimana ketebalan biomasa padang penggembalaan dari setiap titik berbeda-beda.

–          Kecepatan pertumbuhan kembali pada hijauan makanan ternak dapat menyebabkan kesalahan dalam perhitungan konsumsi pakan.

–          Kerusaha tanaman akibat injakan, perenggutan yang berakibat pada kerusakan hijauan dapat berpengaruh pada kesalahan dalam perhitungan konsumsi pakan.

 

  1. PENGUKURAN KONSUMSI TIDAK LANGSUNG

2.1  Perkiraan produksi feses

Perkiraan produksi feses diukur menggunakan dua cara yaitu :

2.2  Koleksi total.

            Mulik, (2011), berpendapat bahwa produksi feses pada ternak yang digembalakan diukur menggunakan harness dan kantong penampung yang diikatkan pada bagian belakang bahwa ternak untuk menampung semau feses yang dikeluarkan oleh ternak dalam periode waktu tertentu.

Kelebihan

–          Lebih sederhana dan tidak membutuhkan biaya analisis dalam jumlah besar.

–          Penerapan pada ruminansia kecil sebagai model dalam estimasi ternak ruminansia besar.

Kekurangan

–          Membutuhkan  tenaga yang siap mengosongkan isi kantong penampung feses.

–          Metode yang efisien ini hanya mampuh diterapkan pada gembala ruminansia kecil, dimana menghindari resiko kecelakan dalam pemasangan dan pengosongan kantong penampung feses.

2.3  Menggunakan marker

            Pada metode ini hanya diambil sampel total produksi feses dan dihitung dengan menggunakan rasio marker yang diberikan dengan konsentrasinya dalam sampel feses.

Kelebihan

–          Metode ini diperlukan sampel feses sehingga tidak diperlukan koleksi seluruh feses.

Kekurangan

–          Membutuhkan ketelitian dan biaya analisis dalam jumlah yang besar.

2.4  Estimasi daya cerna

            Kecernaan zat makanan didefinisikan sebagai jumlah zat makanan yang tidak diekskresikan dalam feses atau dengan asumsi bahwa zat makanan tersebut dicerna oleh hewan apabila dinyatakan dalam persentase maka disebut koefisisen cerna (Tillman, 1989). Keberadaan pakan dalam alat pencernaan ruminansia akan mengalami perubahan kimia, biologi, dan fisik. Setiap jenis ternak memiliki kemampuan yang berbeda dalam mendegradasi pakan, sehingga mengakibatkan perbedaan kecernaan dalam rumen.

            Terdapat beberapa metode yang digunakan untuk mengukur kecernaan suatu bahan pakan seperti in vivo, in sacco  dan in  vitro.  Teknik evaluasi pakan secara in vivo  mempunyai tingkat akurasi yang  lebih tinggi dibanding teknik lain karena bersifat aplikatif pada ternak secara  langsung.

            Pengukuran kecernaan secara in vivo  dapat dilakukan dengan dua cara yaitu cara tak langsung dengan menggunakan  marker  dan secara langsung.

2.5  Pengukuran secara langsung merupakan pengukuran konvensional dengan menggunakan kandang metabolis ataupun kandang individu.

            Dalam metoda ini semua pakan, sisa pakan dan feses ditimbang dan dicatat, kemudian diambil sampel untuk dianalisis. Dengan mengetahui jumlah pakan yang diberikan, sisa pakan, dan feses  maupun urine yang dikeluarkan setiap ekor ternak serta  mengetahui kandungan zat makanan bahan pakan, sisa pakan, feses atau urine, maka akan didapat nilai kecernaan dari masing-masing komponen. Pengukuran secara tidak langsung merupakan metode yang pada penerapannya feses yang dikeluarkan ternak tidak perlu dikumpulkan dan ditimbang semua tetapi cukup diambil sampelnya.

Kelebihan

            Teknik ini biasanya dilakukan pada ternak yang digembalakan, pengukuran konsumsinya dihitung dengan menduga feses yang dikeluarkan untuk setiap ternak dengan menggunakan perunut misalnya  chrome oxide, ferric oxide, pigment, silika, lignin  dan cromogen. Selisih antara konsumsi zat  makanan bahan pakan dengan ekskresi zat makanan feses menunjukkan jumlah zat makanan bahan pakan yang dapat dicerna Kecernaan ransum mempengaruhi konsumsi ransum, kecernaan ransum yang rendah dapat meningkatkan konsumsi ransum karena laju digesta dalam pencernaan semakin cepat dan ransum akan cepat keluar dari saluran pencernaan

Kekurangan

–          Diperlukan ketelitian dalam pengambilan sampel hijauan yang tepat sesuai yang dikonsumsi ternak.

–          Kemapuan daya cerna in vitro umumnya lebih rendah daripada kemapuan kecernaan sebenarnya oleh ternak itu sendiri.

2.6  Menggunakan marker internal

            Marker internal merupakan senyawa kimia dalam pakan yang tidak dapat dicerna dalam saluran pencernaan seperti lignin, silica, kromogen dan NDF tidak tercerna( Mulik, 2011).

            Pada umumnya metode ini membutuhkanbiaya analisis dalam jumlah yang tinggi, sementara terkadang dalam recovery marker kurang baik yang mempengaruhi nilai estimasi. Daya cerna dapat dihitung :

Keterangan :

Md = konsentrasi marker dalamhijauan

Mf = konsentrasi narker dalam feses.

            Setelah memperoleh produksi feses dan daya cerna, denan demikian konsumsi bahan kering dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :

Sebagai contoh

Jumlah marker yang di di infuse pada seekor tenak 10 µg.

Konsentrasi marker dalam sampel feses adalah 0.006 µg/g feses

Perhitungan

Dari hasil estimasi perhitungan diperoleh konsumsi pakan dalam Bahan kering adalah 1666.27 gBK/hari.

PENUTUP

Pengukuran konsumsi pakan nampaknya mudah namun sebenanya besarnya bervariasi yang ditemukan mambuat akurasi data yang diperoleh tidak begitu tinggi. Pengukuran konsumsi pakan haruslah dilakukan dengan tujuan tertentu dan dengan memperhatikan hijauan (umur, spesies, dll.), lama pengukuran, jenis dan jumlah ternak yang digunakan, kandang dan level pemberian pakan yang disesuaikan dengan tujuan pengukuran.

Pengukuran konsumsi pakan sedikitnya lebih mudah dilakukan pada ternak yang ada dalam kandang sementara di gembalakan sangat berpengaruh terhadap keakuratan data dan informasi yang diperoleh. Pengukuran konsumsi pakan ternak gemabala hingga saat ini masih sulit untuk dilakukan terutama berbagai metode yang dikembangkan mempunyai keterbatasan tertentu. Metode langsung dan tidak langsung pada banyak situasi dapat lebih mudah dilakukan akan tetapi pada umumnya memerlukan analisis kimia yang cukup banyak.

 

DAFTAR PUSTAKA

Jarrige, R. 1989. Ruminant Nutrition: Recommended Allowances and Feed Tables. INRA. INRA, John Libbley, Paris.

Mulik, 2011.System produksi sapi gembala berkelanjurtan integrasi iklim, tanah, tanaman dan ternak.Cetakan 1, Undana Press. Kupang

Parakkasi, A., 1995. Ilmu Makanan dan Ternak Ruminansia. UI Press, Jakarta.

Tillman, D., H. Hartadi, S. Prawirokusumo, S. Reksohadiprodjo dan S.Lebdosukojo.1991.Ilmu   Makanan Ternak Dasar.Gadjah  mada University Press, Yokyakarta.

Van Soest, P. J. 1996. Forage Intake in Relation to Chemical Composition and Digestability: Some New Concepts. Proc. 23rd Southern Pasture Forage Crop Improvement Conf., P. 24. Blackburg, VA.

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply