Potensi Dan Prospek Ayam Kampung Di NTT

AFRO MAKING

Perkembangan populasi ayam kampung di NTT selama kurun waktu 5 tahun terakhir (2007 – 2011) mengalami pertumbuhan yang lamban dimana jumlah populasi hanya berkembang dari 9.842.891 ekor menjadi 10.528.966 ekor yang tersebar di 20 daerah tingkat II yang ada (BPS, 2011), atau hanya terjadi peningkatan sebesar 180.224ekor. Dari penyebaran tersebut Kabupaten Ende dan Kupang memberikan proporsi yang cukup besar yaitu masing-masing sebesar 1.812.457 ekor (2009) – 1.953.132 ekor (2011) dan 2,004,081 ekor (2009) – 2.034.292 ekor (2011). Sedangkan daerah lain memberikan proporsi jumlah ternak maksimal sepertiga dari yang dihasilkan kedua daerah tersebut diatas.

Dari populasi ternak ayam kampung di kabupaten Kupang menunjukan bahwa populasi ternak ayam kampung di daratan Timor jumlah yang sangat besar yang perlu dikembangkan. Dimana polpulasi ternak di daratan Timor dapat dilihat  tabel 1.

Dari Tabel ini menunjukan bahwa selalu terjadi penambahan populasi setiap tahunnya yaitu 80.324 ekor.Dengang demikian maka produktivitas ternak ayam kampung yang ada perlu dikembangkan secara intensif.

Dalam menunjang program usahatani ayam kampung di suatu wilayah diperlukan beberapa faktor yang saling berhubungan seperti ketersediaan sumberdaya dan potensi wilayah, kebutuhan pasar, skala usaha dan pola pemeliharaan, kelembagaan dan perkreditan.Sumberdaya yang dimaksud adalah peternak yang mempunyai pengalaman, mau menerima inovasi baru, rajin dan tekun sehingga mampu berusaha dengan orientasi agribisnis.Sumberdaya potensi wilayah terutama pakan seperti dedak dan limbah pertanian yang murah dan mudah diperoleh disamping obat-obatan (vaksin).

Di Nusa Tenggara Timur walaupun jenis usaha ternak ini telah lama berkembang tetapi banyak mengalami kendala yang bersifat spesifik antara lain : pemeliharaan bersifat ekstensif, pakan hanya diberikan 2 kali/hari, yaitu pagi dan sore berupa jagung, dedak dan putak, kematian cukup tinggi yang dapat mencapai 75%, sebagai akibat jarang melakukan vaksinasi. Pamungkas et al. (2000) melaporkan bahwa kendala lain dalam pengembangan ayam kampung adalah kurang tersedia bibit unggul, rendahnya kemampuan peternak dalam mengidentifikasi penyakit, keterbatasan penyediaan pakan serta kurang menguasai pemasaran dan pengolahan hasil.

Ratnawaty., et al  (1999) melaporkan bahwa respon petani kooperator terhadap paket yang diintroduksi berupa perbaikan pakan, vaksinasi, perkandangan, sangkar telur bentuk kerucut, pemilihan telur tetas dan pemisahan anak ayam meningkat dari 68,80 menjadi 83,42%, pertambahan bobot badan anak sebesar 7,64 gram/ekor/hari dan kelayakan usaha dalam pemeliharaan ayam kampung sebesar 1,13 dengan keuntungan Rp. 95.000,- selama delapan bulan pemeliharaan.